Sebelumnya tidak pernah membayangkan bakal patah hati di umur 29, sehari sebelum aku menemukan sehelai uban di kepala. Ini bukan soal kegagalan mencapai target apapun apalagi tuntutan umur. Tapi membayangkan harus memulai perjalanan baru setelah bertahun-tahun merasa hampir sampai tujuan, itu melelahkan. Untungnya aku punya orang-orang dekat yang tahu caranya memberi dukungan walau dari jauh. Orang rumah selalu mengusahakan videocall tiap akhir pekan, update kabar keponakan yang lucu dan menggemaskan: Nana yang suka facetime pake emoji monyet, Banyu yang suka ngasih tebakan, atau Bumi yang nggak mau kalah tapi belum paham konsep tebakan itu apa. Teman-teman baik juga begitu. Yang jauh dan lama ga berkabar menyempatkan diri buat ngechat atau bahkan buat datang. Ada yang ngajak makan, nonton film teranyar, jalan-jalan ke taman kota, atau nonton podcast live awwe sama pican. Beberapa yang dekat dan terjangkau sebisa mungkin ada buat memastikan aku nggak patetik sendirian. Sesederhana maka...
saya dalam satu perjalanan