Langsung ke konten utama

Postingan

Sebuah target dan hal baru lainnya

Sebelumnya tidak pernah membayangkan bakal patah hati di umur 29, sehari sebelum aku menemukan sehelai uban di kepala. Ini bukan soal kegagalan mencapai target apapun apalagi tuntutan umur. Tapi membayangkan harus memulai perjalanan baru setelah bertahun-tahun merasa hampir sampai tujuan, itu melelahkan. Untungnya aku punya orang-orang dekat yang tahu caranya memberi dukungan walau dari jauh. Orang rumah selalu mengusahakan videocall tiap akhir pekan, update kabar keponakan yang lucu dan menggemaskan: Nana yang suka facetime pake emoji monyet, Banyu yang suka ngasih tebakan, atau Bumi yang nggak mau kalah tapi belum paham konsep tebakan itu apa. Teman-teman baik juga begitu. Yang jauh dan lama ga berkabar menyempatkan diri buat ngechat atau bahkan buat datang. Ada yang ngajak makan, nonton film teranyar, jalan-jalan ke taman kota, atau nonton podcast live awwe sama pican. Beberapa yang dekat dan terjangkau sebisa mungkin ada buat memastikan aku nggak patetik sendirian. Sesederhana maka...

30 September 2020

P agi ini setelah jalan sebentar membeli sarapan, saya duduk ngalamun saja karena disergap sama keterasingan pada diri sendiri. Saya sudah jauh berjalan, delapan tahun meninggalkan rumah, tapi ini di mana, saya ada di tubuh siapa. Saya baca lagi catatan-catatan saya jaman kuliah dan berpikir wah gila ya dulu bisa mikir dan nulis kayak gini. Sekarang kecepatan baca menurun drastis. Kecintaaan saya pada  buku dan tulisan juga lama-lama redup. Kalau dulu pas senggang saya baca buku, sekarang saya lebih sering menonton film atau main games atau menyiram tanaman artifisial yang kalau panen, buahnya koin yang artifisial juga. Ada banyak memori yang saya simpan, saya masukkan toples dan saya tutup rapat-rapat karena tahu saya tidak akan pernah kembali kesitu. Tapi pagi ini, entah karena karat atau karena ini tanggal 30 September, toplesnya terbuka dan memori-memori yang lama balik lagi menyerang saya. Sekali lagi, hari ini, saya gagal menyerang balik. Selama ini saya pikir cara bertahan h...

10 Juni 2019

Belakangan perasaan cemas dan khawatir yang tidak perlu kembali lagi saya alami. Sejak pindah ke Jakarta, kecemasan berlebih memang jadi persoalan utama saya. Tapi di akhir 2018, semuanya mulai membaik. Tahun 2019 menjadi tahun yang cukup labil apalagi ada banyak capaian yang akhirnya kesampaian di akhir tahun. Baru bulan Mei kemarin, kebiasaan meringkuk di lantai dingin kamar mandi dengan lampu yang seluruhnya padam mulai lagi. Saya tidak tahu secara tepat pemicunya apa, tapi yang saya rasakan selama PSBB ini sisi introvert saya seperti makin mendominasi. Saya males ketemu orang, takut membuka whatsapp, dan selalu berdebar tiap ada dering telepon. Waktu saya menulis ini pun, background data Whatsapp sengaja saya matikan biar pesan bisa masuk hanya jika saya membuka Whatsapp. Saya sedang dalam ketakutan menyambut hari Jumat dimana saya harus masuk kantor dan bertemu rekan, atasan, pimpinan. Sariwan mulai muncul, asam lambung mulai naik dan konsentrasi mulai buyar. Kalau sudah begini ...

Tiang Listrik

Ada takut yang menggantung di langit Jakarta Yang merambat lewat kabel listrik di sepanjang Pedurenan Bulan lalu satu tiang listrik roboh karena tak cukup kuat menampung ketakutan warga Petugas lalu menggali trotoar, memindahkan kabel itu ke dalam tanah Rasa takut akhirnya meresap dari kabel ke tanah, lalu air dan pipa kamar mandi Merasuk di tubuhku waktu mandi Menyusup ke tidurku waktu malam

Mesin Ketik

Kita lahir dari sisa anggaran akhir tahun yang menumpuk Waktu orang-orang sudah lelah dan kehabisan cara mengakali target kinerja Lalu aku dicomot dari etalase ditaruh di atas meja pegawai baru dengan seragam hitam-putih Dia senang bukan main Karena aku bisa menghapus kesalahan yang sudah lalu Kata atasannya, aku cocok untuk generasi milenial yang suka buru-buru Lepas jam empat sore, waktu pegawai lainnya sudah pulang Pegawai baru itu membiarkanku tetap siaga Berharap aku bisa menghapus kesalahannya: memilih untuk bekerja di kota

Semenjak PNS

Sejak diangkat menjadi PNS, caraku mencintaimu berbeda Cinta kita mengenal jam kerja, mulai jam empat sore lalu pulang pukul tujuh pagi Di luar jam itu aku tak mau menghubungimu, karena tidak siap membayarkan gaji lembur. Seragam kita berwarna biru.  Dibuat dari sendu yang kujahit tiap pagi menjelang kepulanganmu. Kita menolak mengenakan pangkat dan tanda jabatan, karena cinta mensyaratkan upaya yang setara. Tiap pagi kita harus mengisi jurnal harian. Tahun ini aku pasang target kinerja:  aku harus memelukmu 365 kali dalam satu tahun  dengan tugas tambahan memesan lontong sayur pada minggu pagi. Kalau targetku tercapai, enam tahun lagi aku akan naik pangkat, jadi: Ahli Pacar Madya Sampai akhirnya kuajak kamu menjadi pensiun, saat dimana mencintaimu bisa kulakukan seharian sambil bermalas-malasan. x

mungkin aku

kita pernah menyimpan dongeng soal pangeran kecil dulu waktu dewasa masih begitu menakutkan kita simpan ingatan, rahasia, keresahan lengkap bersama domba dalam kotak berlubang tiga sesekali kau berkunjung dan mengintip, memastikan masih ada udara yang menjaga mereka tetap hidup tapi siapa itu yang diam-diam membuka penutupnya dan membiarkan domba-domba kita lari lengkap bersama ingatan, rahasia dan keresahan

Kota

Aku ingin menghapus rumah dari kepalaku. Tempat tangis bayi mereda di balik puting ibunya. Dimana sesal dan kecewa seperti jangkrik yang sesekali berbunyi di sela rumput basah setelah hujan di pekarangan. Aku ingin menghapus rumah dari kepalaku dan menggantikannya dengan kota yang riuh. Tempat hasrat dan kerja berkejaran seperti gerbong kereta cepat. Dimana malam tak membiarkan manusia lelap, sementara orang-orang manja terseok di ujung jalan sebelum kuburan cina. Aku ingin menaruh kota di kepalaku dan menyematkan cinta di atasnya. Supaya rumah tak bisa pulang dan larut menjadi keringat di kemeja. Tapi adakah kota yang tak menyimpan rindu dalam dini harinya?

ORANG-ORANG PROYEK

Lebaran kali ini kau tidak pulang lagi. Setelah menghitung besarnya pengeluaran dan menipisnya tabungan, akhirnya kau menyerah. Proyek kereta cepat tempatmu bekerja berhenti sementara. Katanya Presiden sedang mengevaluasi semua proyek pembangunan akibat kecelakaan kerja tempo hari. Galian rekanmu menghantam pipa gas dan menyebabkan kebocoran. Untung bukan kau yang sedang bertugas malam itu. Tapi tetap saja, kau tidak dibayar sebulan ini, padahal kau masih butuh makan tiap hari. Semalam ketika Jakarta sedang panas, kau keluar menghisap rokok di teras. Ada penghuni kontrakan yang sudah lebih dulu tiduran disitu. Nampaknya ia sama terganggunya dengan panas dan bunyi kipas angin yang karatan. Wajahnya lebih tua darimu, mungkin sudah beranak tiga. Entahlah istrinya berapa. Kau pernah melihatnya memakai helm proyek yang sama denganmu, hanya beda warna. Bisa jadi ia buruh bangunan juga. "Panas ya mas?" tanya nya. Hanya dari sekalimat itu, kau tahu dia dari Jawa . ...

Akhir Pekan

Akhir pekan dan kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Kau tidak punya seseorang yang bisa dikunjungi di kota asing ini. Sementara jalan-jalan yang kau ingat sudah terlalu sesak untuk ditaruh kenangan. Kemarin pagi kau berharap hari ini datang lebih cepat. Tapi sampai siang kau masih menatap tembok yang itu juga. Nyaris tak sadar, kau membiarkan harimu habis tanpa membuat janji pada siapapun. Di antara sepi yang makin lama makin mengeras, kau temui masa lalu sering datang tiba-tiba. Kau pungut lagi buku itu. Pemberian dari teman-temanmu selepas kuliah. Kau ingat nasihat salah satu dari mereka: bahwa rindu hanya milik orang-orang manja. Sementara kota tak punya cukup waktu untuk mendengarkan nostalgia. Akhir pekan dan kau masih menunggu kapan bisa memesan kereta untuk pulang. *sebuah tulisan yang diilhami dari puisi Aan Mansyur di bukunya Sebelum Sendiri . 

Sedikit Cerita Soal Laut yang Bercerita

Buku pertama yang saya beli di Jakarta adalah Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Bukan buku yang tepat bagi seseorang yang baru saja meninggalkan segala tetek bengek soal mahasiswa, kampus dan Jogja. Mengapa? Perkaranya cuma satu, buku ini dengan caranya yang entah bagaimana, menyeret orang-orang seperti saya kembali pada perasaan sedih, bersalah, dan juga rindu barangkali pada tiga hal yang saya sebutkan di awal. Buku yang saya selesaikan kurang dari tiga hari ini kurang lebih bercerita tentang seorang aktivis mahasiswa bernama Biru Laut yang dibuang ke laut. Kalau novel sebelumnya (‘Pulang’) mengambil setting sekitaran tahun 1965, Laut Bercerita ada di periode berikutnya yaitu 1998 dan seputarannya. Sejak awal halaman pertama, Leila sudah membongkar isi cerita dengan mengisahkan kematian Laut –yang nantinya menjadi penutur cerita sekaligus tokoh utama. Cara pembuka yang demikian menunjukkan niatan Leila untuk tidak membuat pembaca penasaran dengan ujung petualangan La...

Buku untuk Penikmat Burjo Palm Kuning

Belakangan saya suka sekali mencari buku untuk kemudian diberikan pada orang lain. Memberi buku sebagai bingkisan, entah dalam rangka apa, adalah kegiatan yang menyenangkan yang mungkin sekali menjadi hobi baru saya ke depan. Tidak seperti membelikan bunga, kue, baju, mainan atau cinta –kalau ada, buku adalah bingkisan yang tidak akan berkurang nilainya. Entah dibaca hari ini atau lusa atau bertahun-tahun ke depan, buku akan selalu punya maknanya yang kekal –yang mungkin justru bertambah seiring makin banyak memori yang melekat pada sebuah buku. Sewaktu saya memberi buku, saya selalu memberikan yang sudah pernah saya baca. Ini bukan karena saya pelit –sama sekali tidak, melainkan karena dua alasan dasar: Pertama, membagi buku yang sudah pernah saya baca justru lebih romantis ketimbang memberi buku yang sama sekali baru dan masih berbungkus plastik. Coba kita bayangkan demikian: jika kita mengartikan membagi buku sama dengan memberi sebagian dari diri kita untuk orang lain, membagi...

Ibu Suharti*

Saya bertemu beliau di sebuah latihan teater. Masih ingat waktu itu ia berperan sebagai Pak Rebo, penjaga makam Kyai Bakal, yang rumahnya dekat pabrik. Dari awal karakter Pak Rebo sudah merasuk di diri Bu Har, begitu saya memanggilnya. Mungkin karena Pak Rebo dan Bu Har punya kesamaan: tampangnya selalu menunjukkan ketidakpedulian. Padahal, ia yang paling hafal dan mengerti karakter teman-temannya. Sikap diam Bu Har semata-mata adalah caranya meredakan ribut yang tidak perlu.  Selama empat bulan saya menemani para ibu berlatih teater, Bu Har tidak pernah ikut berdebat soal jam berapa para ibu musti dijemput, rumah siapa yang ketempatan arisan berikutnya, atau siapa yang musti menggantikan peran Bu Yati. Tapi selama empat bulan itu, Bu Har juga yang membisikkan pada saya watak masing-masing ibu. Bu Har yang meminta saya maklum tiap kali Bu Partini bicara panjang lebar. Beliau juga yang mengingatkan Mbah Warti kalau hari itu beliau sudah menanyakan nama saya untuk ketiga kaliny...

Prolog

Semua bermula dari malam minggu yang sepi. Dan sebagaimana anak muda kebanyakan, hujan dan sepi selalu mencitpakan kombinasi yang padu untuk menulis. Malam minggu itu berjarak sebulan sebelum saya harus pergi meninggalkan Jogja. Saya sedang beres-beres kamar waktu itu: menyicil proses pindahan kos yang mungkin butuh beberapa hari. Saya mengamati buku-buku yang terpajang di rak berniat untuk mengemasnya dalam kardus. Dari semua buku itu, sebagian saya beli sendiri setelah mendengar cerita dari teman-teman. Sebagian lainnya hasil pemberian di hari ulangtahun saya. Sebagian lagi buku-buku pinjaman yang tidak rela saya kembalikan. Saya lalu mengambil salah satu: buku tulisan Budi Darma berjudul Orang-orang Bloomington, kado ulangtahun saya yang kedua-puluh tiga. Di dalamnya tertulis coretan teman-teman saya berisi pesan yang sama sekali tidak menghibur. Nasihat untuk move on misalnya. Lalu saya buka buku yang lain: George Orwell 1984, saya beli waktu orang-orang di sekitar saya sibuk mem...

Tempat

Tempat yang pernah menampung kita bertahun-tahun lalu: mereka lupa diri. Aku bertanya pada kedai makan di persimpangan jalan, apa menu favorit kita. Kursi-kursi menjawab: "Aku tak pernah mengenali suaramu sebelumnya." Aku bertanya pada sudut sebuah altar, kapan terakhir kita merapal doa. Patung-patung menjawab: "Ini bukan gerejamu" Aku bertanya pada sudut perpustakaan, pernahkan ia mencuri dengar pembicaraan kita soal keluh dan kesah. Debu menjawab: "Sudah lama kau tak berbincang dengan siapapun." Aku pulang dan bertanya pada rumah, apakah ia mengenalimu dan suara kakimu yang sering berkunjung tiap akhir pekan. Tiang-tiang teras menjawab: "Bangunlah Nak, kau sedang bermimpi".

Museum

Ini hari minggu dan saya berkunjung ke museum. Untuk menengok piringan hitam, bingkai, kursi, jendela, artefak dan barang-barang tempat ingatan saya pernah ditaruh. Cukup sekali seminggu agar saya bisa bilang: "Aku tidak punya apa-apa hari ini, selain sepi". Di sisa hari yang lain saya bercakap dengan temuan baru yang sama sekali asing dan menakutkan. Supaya saya bisa bilang: "Tidak ada yang aku punya, selain hari ini". Sepulang dari museum, saya gemar memungut masa lalu dan menyimpannya dalam toples berlubang tiga agar ia bisa hidup dan bernafas. Tapi orang-orang bilang: "Kau akan mati kalau membiarkan arlojimu berdetak mundur."

Pertemuan

Kalau nanti, bisa bulan depan atau tahun yang akan datang kita bertemu di persimpangan jalan: kau tidak perlu menoleh. Jangan bertegur. Jangan bertanya seolah kita baru pulang dari rantau. Karena mungkin itu bukan aku. Mungkin itu bukan kau. Aku terlampau sibuk dengan pikiranku sendiri dan lupa bentuk wajah kau. Kau terlampau lelah mengejar gerigi arlojimu sampai lupa berhenti Aku butuh bosan untuk beranjak, dan kau butuh jarak untuk pulang. Lalu kita akan kembali sebagai dua orang asing yang  berkenalan di hari pertama.

Vakansi Akhir Pekan

Ini hari Sabtu dan saya tidak bisa bekerja. Sedari pagi saya sudah duduk disini, lantai 2 sebuah warnet yang menghadap langsung apartemen yang baru dibangun. Harusnya saya mengerjakan sebuah esai dan menggarap sebuah penelitian, tapi pikiran saya kemana-mana. Kesudut-sudut apartemen yang sedang dibangun, ke sebuah kebun tebu di kampung halaman, lalu ke ibukota dan kembali lagi ke kota ini, di depan sebuah altar gereja. Saya dan Anda berdiri disitu. Anda memohon pekerjaan, gaji, jodoh dan ujub lainnya yang sering dirapal orang-orang. Sementara saya memohon liburan. Hidup saya belakangan ini kacau. Saya menginginkan liburan tiap detik. Untuk membaca komik kesukaan atau buku puisi yang dulu dilarang. Liburan saya menprasyaratkan pekerjaan yang sudah selesai. Tapi tiap kali saya menginginkannya tiap kali pula saya menundanya. Bayangan tentang liburan selalu membuat saya berhenti bekerja. Saya selalu membayangkan tidak seharusnya ada buruh seperti saya: yang bekerja di luar jam ker...

Pada Waktu

Menjadi mahasiswa semester akhir bukan perkara mudah. Paling tidak ada tiga pertanyaan yang menghantui: pertama, kapan lulus; kedua, kapan menikah; ketiga, setelah lulus mau bekerja apa? Setiap manusia diwajibkan untuk dewasa melalui beberapa proses; lahir, belajar berjalan, belajar menghitung dan menghapal, kuliah, bekerja, menikah, hidup mapan dan meninggal. Meski meninggal ada di tahap akhir, tapi saya rasa tujuan utama manusia menghidupi hidupnya bukan untuk meninggal. Manusia hidup untuk mengejar hidup mapan. Meninggal adalah risiko dari hidup mapan. Mereka yang gagal hidup mapan akan putus asa lalu meninggal. Mereka yang berhasil hidup mapan juga akan bosan dan meninggal. Hidup mapan adalah perkara penting yang dikejar manusia, kalau bisa secepat mungkin. Makanya, setelah kuliah, pertanyaan yang utama adalah kapan memasuki fase mapan: bekerja dan berkeluarga. Baru setelah itu muncul pertanyaan lain; bagaimana dan mengapa. Marx suatu kali pernah bercerita tentang fethisisme, pe...