Langsung ke konten utama

10 Juni 2019

Belakangan perasaan cemas dan khawatir yang tidak perlu kembali lagi saya alami. Sejak pindah ke Jakarta, kecemasan berlebih memang jadi persoalan utama saya. Tapi di akhir 2018, semuanya mulai membaik. Tahun 2019 menjadi tahun yang cukup labil apalagi ada banyak capaian yang akhirnya kesampaian di akhir tahun. Baru bulan Mei kemarin, kebiasaan meringkuk di lantai dingin kamar mandi dengan lampu yang seluruhnya padam mulai lagi. Saya tidak tahu secara tepat pemicunya apa, tapi yang saya rasakan selama PSBB ini sisi introvert saya seperti makin mendominasi. Saya males ketemu orang, takut membuka whatsapp, dan selalu berdebar tiap ada dering telepon. Waktu saya menulis ini pun, background data Whatsapp sengaja saya matikan biar pesan bisa masuk hanya jika saya membuka Whatsapp.

Saya sedang dalam ketakutan menyambut hari Jumat dimana saya harus masuk kantor dan bertemu rekan, atasan, pimpinan. Sariwan mulai muncul, asam lambung mulai naik dan konsentrasi mulai buyar. Kalau sudah begini biasanya susah sekali konsentrasi dan gampang sekali tersulut emosi. Kasihan juga orang-orang terdekat yang sering kena imbasnya.

Untuk alasan itulah saya merasa perlu menulis lagi. Dengan menulis saya jadi bisa menyadari apa yang sedang terjadi, merefleksikan alasan apa yang melatarbelakangi perubahan sikap atau pikiran saya dan berharap dengan demikian bisa mengurainya pelan-pelan, tanpa menyusahkan teman-teman.

Meski blog ini publik, tapi nampaknya tidak pernah ada yang membaca postingan saya. Statistik menunjukkan tidak ada pengunjung jadi saya merasa aman untuk cerita disini. Beberapa yang menjadi follower saya juga teman-teman terdekat yang sudah tau problem saya. Jadi, semoga kalian tidak terganggu. Sekalipun saya bisa menuliskannya di jurnal pribadi dan disimpan rapat-rapat, tapi kadang ada perasaan, kalau sampai nanti saya kenapa-napa dan tidak ada orang yang tahu, paling tidak proses diri ini terdokumentasikan disini. Soalnya hari ini, dan atau waktu lain dimana saya sedang kumat, ada sesuatu yang menghambat untuk cerita ke teman, ke pacar, apalagi ke orangtua. Cerita ke mereka membuat saya menumbuhkan semacam ekspektasi untuk direspon dengan baik. Begitu responnya tidak cukup baik menurut saya, maka yang terjadi berikutnya adalah saya drop lagi, makin terpuruk lagi. Jadi, mulai sekarang saya beritikad untuk mengurangi cerita dan memperbanyak menulis. Menulis di blog membuat saya merasa disimak, dan saya suka itu. Rasanya seperti punya relasi pertemanan tapi tanpa ekspektasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ibu Suharti*

Saya bertemu beliau di sebuah latihan teater. Masih ingat waktu itu ia berperan sebagai Pak Rebo, penjaga makam Kyai Bakal, yang rumahnya dekat pabrik. Dari awal karakter Pak Rebo sudah merasuk di diri Bu Har, begitu saya memanggilnya. Mungkin karena Pak Rebo dan Bu Har punya kesamaan: tampangnya selalu menunjukkan ketidakpedulian. Padahal, ia yang paling hafal dan mengerti karakter teman-temannya. Sikap diam Bu Har semata-mata adalah caranya meredakan ribut yang tidak perlu.  Selama empat bulan saya menemani para ibu berlatih teater, Bu Har tidak pernah ikut berdebat soal jam berapa para ibu musti dijemput, rumah siapa yang ketempatan arisan berikutnya, atau siapa yang musti menggantikan peran Bu Yati. Tapi selama empat bulan itu, Bu Har juga yang membisikkan pada saya watak masing-masing ibu. Bu Har yang meminta saya maklum tiap kali Bu Partini bicara panjang lebar. Beliau juga yang mengingatkan Mbah Warti kalau hari itu beliau sudah menanyakan nama saya untuk ketiga kaliny...

Akhir Pekan

Akhir pekan dan kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Kau tidak punya seseorang yang bisa dikunjungi di kota asing ini. Sementara jalan-jalan yang kau ingat sudah terlalu sesak untuk ditaruh kenangan. Kemarin pagi kau berharap hari ini datang lebih cepat. Tapi sampai siang kau masih menatap tembok yang itu juga. Nyaris tak sadar, kau membiarkan harimu habis tanpa membuat janji pada siapapun. Di antara sepi yang makin lama makin mengeras, kau temui masa lalu sering datang tiba-tiba. Kau pungut lagi buku itu. Pemberian dari teman-temanmu selepas kuliah. Kau ingat nasihat salah satu dari mereka: bahwa rindu hanya milik orang-orang manja. Sementara kota tak punya cukup waktu untuk mendengarkan nostalgia. Akhir pekan dan kau masih menunggu kapan bisa memesan kereta untuk pulang. *sebuah tulisan yang diilhami dari puisi Aan Mansyur di bukunya Sebelum Sendiri .