Belakangan perasaan cemas dan khawatir yang tidak perlu kembali lagi saya alami. Sejak pindah ke Jakarta, kecemasan berlebih memang jadi persoalan utama saya. Tapi di akhir 2018, semuanya mulai membaik. Tahun 2019 menjadi tahun yang cukup labil apalagi ada banyak capaian yang akhirnya kesampaian di akhir tahun. Baru bulan Mei kemarin, kebiasaan meringkuk di lantai dingin kamar mandi dengan lampu yang seluruhnya padam mulai lagi. Saya tidak tahu secara tepat pemicunya apa, tapi yang saya rasakan selama PSBB ini sisi introvert saya seperti makin mendominasi. Saya males ketemu orang, takut membuka whatsapp, dan selalu berdebar tiap ada dering telepon. Waktu saya menulis ini pun, background data Whatsapp sengaja saya matikan biar pesan bisa masuk hanya jika saya membuka Whatsapp.
Saya sedang dalam ketakutan menyambut hari Jumat dimana saya harus masuk kantor dan bertemu rekan, atasan, pimpinan. Sariwan mulai muncul, asam lambung mulai naik dan konsentrasi mulai buyar. Kalau sudah begini biasanya susah sekali konsentrasi dan gampang sekali tersulut emosi. Kasihan juga orang-orang terdekat yang sering kena imbasnya.
Untuk alasan itulah saya merasa perlu menulis lagi. Dengan menulis saya jadi bisa menyadari apa yang sedang terjadi, merefleksikan alasan apa yang melatarbelakangi perubahan sikap atau pikiran saya dan berharap dengan demikian bisa mengurainya pelan-pelan, tanpa menyusahkan teman-teman.
Meski blog ini publik, tapi nampaknya tidak pernah ada yang membaca postingan saya. Statistik menunjukkan tidak ada pengunjung jadi saya merasa aman untuk cerita disini. Beberapa yang menjadi follower saya juga teman-teman terdekat yang sudah tau problem saya. Jadi, semoga kalian tidak terganggu. Sekalipun saya bisa menuliskannya di jurnal pribadi dan disimpan rapat-rapat, tapi kadang ada perasaan, kalau sampai nanti saya kenapa-napa dan tidak ada orang yang tahu, paling tidak proses diri ini terdokumentasikan disini. Soalnya hari ini, dan atau waktu lain dimana saya sedang kumat, ada sesuatu yang menghambat untuk cerita ke teman, ke pacar, apalagi ke orangtua. Cerita ke mereka membuat saya menumbuhkan semacam ekspektasi untuk direspon dengan baik. Begitu responnya tidak cukup baik menurut saya, maka yang terjadi berikutnya adalah saya drop lagi, makin terpuruk lagi. Jadi, mulai sekarang saya beritikad untuk mengurangi cerita dan memperbanyak menulis. Menulis di blog membuat saya merasa disimak, dan saya suka itu. Rasanya seperti punya relasi pertemanan tapi tanpa ekspektasi.
Saya sedang dalam ketakutan menyambut hari Jumat dimana saya harus masuk kantor dan bertemu rekan, atasan, pimpinan. Sariwan mulai muncul, asam lambung mulai naik dan konsentrasi mulai buyar. Kalau sudah begini biasanya susah sekali konsentrasi dan gampang sekali tersulut emosi. Kasihan juga orang-orang terdekat yang sering kena imbasnya.
Untuk alasan itulah saya merasa perlu menulis lagi. Dengan menulis saya jadi bisa menyadari apa yang sedang terjadi, merefleksikan alasan apa yang melatarbelakangi perubahan sikap atau pikiran saya dan berharap dengan demikian bisa mengurainya pelan-pelan, tanpa menyusahkan teman-teman.
Meski blog ini publik, tapi nampaknya tidak pernah ada yang membaca postingan saya. Statistik menunjukkan tidak ada pengunjung jadi saya merasa aman untuk cerita disini. Beberapa yang menjadi follower saya juga teman-teman terdekat yang sudah tau problem saya. Jadi, semoga kalian tidak terganggu. Sekalipun saya bisa menuliskannya di jurnal pribadi dan disimpan rapat-rapat, tapi kadang ada perasaan, kalau sampai nanti saya kenapa-napa dan tidak ada orang yang tahu, paling tidak proses diri ini terdokumentasikan disini. Soalnya hari ini, dan atau waktu lain dimana saya sedang kumat, ada sesuatu yang menghambat untuk cerita ke teman, ke pacar, apalagi ke orangtua. Cerita ke mereka membuat saya menumbuhkan semacam ekspektasi untuk direspon dengan baik. Begitu responnya tidak cukup baik menurut saya, maka yang terjadi berikutnya adalah saya drop lagi, makin terpuruk lagi. Jadi, mulai sekarang saya beritikad untuk mengurangi cerita dan memperbanyak menulis. Menulis di blog membuat saya merasa disimak, dan saya suka itu. Rasanya seperti punya relasi pertemanan tapi tanpa ekspektasi.
Komentar
Posting Komentar