Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Ibu Suharti*

Saya bertemu beliau di sebuah latihan teater. Masih ingat waktu itu ia berperan sebagai Pak Rebo, penjaga makam Kyai Bakal, yang rumahnya dekat pabrik. Dari awal karakter Pak Rebo sudah merasuk di diri Bu Har, begitu saya memanggilnya. Mungkin karena Pak Rebo dan Bu Har punya kesamaan: tampangnya selalu menunjukkan ketidakpedulian. Padahal, ia yang paling hafal dan mengerti karakter teman-temannya. Sikap diam Bu Har semata-mata adalah caranya meredakan ribut yang tidak perlu.  Selama empat bulan saya menemani para ibu berlatih teater, Bu Har tidak pernah ikut berdebat soal jam berapa para ibu musti dijemput, rumah siapa yang ketempatan arisan berikutnya, atau siapa yang musti menggantikan peran Bu Yati. Tapi selama empat bulan itu, Bu Har juga yang membisikkan pada saya watak masing-masing ibu. Bu Har yang meminta saya maklum tiap kali Bu Partini bicara panjang lebar. Beliau juga yang mengingatkan Mbah Warti kalau hari itu beliau sudah menanyakan nama saya untuk ketiga kaliny...

Prolog

Semua bermula dari malam minggu yang sepi. Dan sebagaimana anak muda kebanyakan, hujan dan sepi selalu mencitpakan kombinasi yang padu untuk menulis. Malam minggu itu berjarak sebulan sebelum saya harus pergi meninggalkan Jogja. Saya sedang beres-beres kamar waktu itu: menyicil proses pindahan kos yang mungkin butuh beberapa hari. Saya mengamati buku-buku yang terpajang di rak berniat untuk mengemasnya dalam kardus. Dari semua buku itu, sebagian saya beli sendiri setelah mendengar cerita dari teman-teman. Sebagian lainnya hasil pemberian di hari ulangtahun saya. Sebagian lagi buku-buku pinjaman yang tidak rela saya kembalikan. Saya lalu mengambil salah satu: buku tulisan Budi Darma berjudul Orang-orang Bloomington, kado ulangtahun saya yang kedua-puluh tiga. Di dalamnya tertulis coretan teman-teman saya berisi pesan yang sama sekali tidak menghibur. Nasihat untuk move on misalnya. Lalu saya buka buku yang lain: George Orwell 1984, saya beli waktu orang-orang di sekitar saya sibuk mem...

Tempat

Tempat yang pernah menampung kita bertahun-tahun lalu: mereka lupa diri. Aku bertanya pada kedai makan di persimpangan jalan, apa menu favorit kita. Kursi-kursi menjawab: "Aku tak pernah mengenali suaramu sebelumnya." Aku bertanya pada sudut sebuah altar, kapan terakhir kita merapal doa. Patung-patung menjawab: "Ini bukan gerejamu" Aku bertanya pada sudut perpustakaan, pernahkan ia mencuri dengar pembicaraan kita soal keluh dan kesah. Debu menjawab: "Sudah lama kau tak berbincang dengan siapapun." Aku pulang dan bertanya pada rumah, apakah ia mengenalimu dan suara kakimu yang sering berkunjung tiap akhir pekan. Tiang-tiang teras menjawab: "Bangunlah Nak, kau sedang bermimpi".

Museum

Ini hari minggu dan saya berkunjung ke museum. Untuk menengok piringan hitam, bingkai, kursi, jendela, artefak dan barang-barang tempat ingatan saya pernah ditaruh. Cukup sekali seminggu agar saya bisa bilang: "Aku tidak punya apa-apa hari ini, selain sepi". Di sisa hari yang lain saya bercakap dengan temuan baru yang sama sekali asing dan menakutkan. Supaya saya bisa bilang: "Tidak ada yang aku punya, selain hari ini". Sepulang dari museum, saya gemar memungut masa lalu dan menyimpannya dalam toples berlubang tiga agar ia bisa hidup dan bernafas. Tapi orang-orang bilang: "Kau akan mati kalau membiarkan arlojimu berdetak mundur."

Pertemuan

Kalau nanti, bisa bulan depan atau tahun yang akan datang kita bertemu di persimpangan jalan: kau tidak perlu menoleh. Jangan bertegur. Jangan bertanya seolah kita baru pulang dari rantau. Karena mungkin itu bukan aku. Mungkin itu bukan kau. Aku terlampau sibuk dengan pikiranku sendiri dan lupa bentuk wajah kau. Kau terlampau lelah mengejar gerigi arlojimu sampai lupa berhenti Aku butuh bosan untuk beranjak, dan kau butuh jarak untuk pulang. Lalu kita akan kembali sebagai dua orang asing yang  berkenalan di hari pertama.

Vakansi Akhir Pekan

Ini hari Sabtu dan saya tidak bisa bekerja. Sedari pagi saya sudah duduk disini, lantai 2 sebuah warnet yang menghadap langsung apartemen yang baru dibangun. Harusnya saya mengerjakan sebuah esai dan menggarap sebuah penelitian, tapi pikiran saya kemana-mana. Kesudut-sudut apartemen yang sedang dibangun, ke sebuah kebun tebu di kampung halaman, lalu ke ibukota dan kembali lagi ke kota ini, di depan sebuah altar gereja. Saya dan Anda berdiri disitu. Anda memohon pekerjaan, gaji, jodoh dan ujub lainnya yang sering dirapal orang-orang. Sementara saya memohon liburan. Hidup saya belakangan ini kacau. Saya menginginkan liburan tiap detik. Untuk membaca komik kesukaan atau buku puisi yang dulu dilarang. Liburan saya menprasyaratkan pekerjaan yang sudah selesai. Tapi tiap kali saya menginginkannya tiap kali pula saya menundanya. Bayangan tentang liburan selalu membuat saya berhenti bekerja. Saya selalu membayangkan tidak seharusnya ada buruh seperti saya: yang bekerja di luar jam ker...

Pada Waktu

Menjadi mahasiswa semester akhir bukan perkara mudah. Paling tidak ada tiga pertanyaan yang menghantui: pertama, kapan lulus; kedua, kapan menikah; ketiga, setelah lulus mau bekerja apa? Setiap manusia diwajibkan untuk dewasa melalui beberapa proses; lahir, belajar berjalan, belajar menghitung dan menghapal, kuliah, bekerja, menikah, hidup mapan dan meninggal. Meski meninggal ada di tahap akhir, tapi saya rasa tujuan utama manusia menghidupi hidupnya bukan untuk meninggal. Manusia hidup untuk mengejar hidup mapan. Meninggal adalah risiko dari hidup mapan. Mereka yang gagal hidup mapan akan putus asa lalu meninggal. Mereka yang berhasil hidup mapan juga akan bosan dan meninggal. Hidup mapan adalah perkara penting yang dikejar manusia, kalau bisa secepat mungkin. Makanya, setelah kuliah, pertanyaan yang utama adalah kapan memasuki fase mapan: bekerja dan berkeluarga. Baru setelah itu muncul pertanyaan lain; bagaimana dan mengapa. Marx suatu kali pernah bercerita tentang fethisisme, pe...