Menjadi mahasiswa semester akhir bukan perkara
mudah. Paling tidak ada tiga pertanyaan yang menghantui: pertama, kapan lulus;
kedua, kapan menikah; ketiga, setelah lulus mau bekerja apa? Setiap manusia
diwajibkan untuk dewasa melalui beberapa proses; lahir, belajar berjalan,
belajar menghitung dan menghapal, kuliah, bekerja, menikah, hidup mapan dan
meninggal. Meski meninggal ada di tahap akhir, tapi saya rasa tujuan utama
manusia menghidupi hidupnya bukan untuk meninggal. Manusia hidup untuk mengejar
hidup mapan. Meninggal adalah risiko dari hidup mapan. Mereka yang gagal hidup
mapan akan putus asa lalu meninggal. Mereka yang berhasil hidup mapan juga akan
bosan dan meninggal. Hidup mapan adalah perkara penting yang dikejar manusia,
kalau bisa secepat mungkin. Makanya, setelah kuliah, pertanyaan yang utama
adalah kapan memasuki fase mapan: bekerja dan berkeluarga. Baru setelah itu
muncul pertanyaan lain; bagaimana dan mengapa.
Marx suatu kali pernah bercerita tentang
fethisisme, pemujaan yang berlebihan pada sebuah benda, perkara, zat, atau
sesuatu. Saya rasa pemujaan terhadap waktu adalah salah satunya. Aan Mansyur, suatu
hari pernah menulis tentang penyembahan pada kecepatan. Ia mempermasalahkan
wartawan yang mengejar aktualitas berita hingga melupakan substansi dan
kebenaran sebuah narasi. Semua berlomba seperti sedang mengikuti kuis Cerdas Cermat.
Tak bisa disangkal, inilah yang terjadi dalam dunia kita dewasa ini. Sejak kecil, kita telah belajar untuk melakukan segalanya dengan cepat, segera. Yayasan sibuk menyelenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini, guru-guru TK telah mengajarkan membaca dan menulis agar ketika masuk SD anak-anak dengan cepat dapat menyerap pelajaran. Waktu sekolah kita dipaksa mengerjakan soal matematika dengan cepat, menghafal rumus fisika dengan kilat sampai kita tak tahu darimana rumus itu didapat. Guru-guru bimbel sibuk mencari jembatan kuda untuk menghafal dengan cara praktis. Di usia kita yang menginjak duapuluh, semua semakin serba cepat. ...
Tak bisa disangkal, inilah yang terjadi dalam dunia kita dewasa ini. Sejak kecil, kita telah belajar untuk melakukan segalanya dengan cepat, segera. Yayasan sibuk menyelenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini, guru-guru TK telah mengajarkan membaca dan menulis agar ketika masuk SD anak-anak dengan cepat dapat menyerap pelajaran. Waktu sekolah kita dipaksa mengerjakan soal matematika dengan cepat, menghafal rumus fisika dengan kilat sampai kita tak tahu darimana rumus itu didapat. Guru-guru bimbel sibuk mencari jembatan kuda untuk menghafal dengan cara praktis. Di usia kita yang menginjak duapuluh, semua semakin serba cepat. ...
Kita begitu benci menunggu, mengutuk yang suka
basa-basi dan menghindari proses. Padahal kita tahu, semeseta juga bukan
sesuatu yang sekali jadi. Mesias tidak turun dalam waktu sekejap. Butuh 35
tahun sampai Mesias dikenal, ratusan tahun hingga seluruh dunia mengakui
keberadaannya.
Saya pun begitu, tak pernah benar-benar ingin
terburu. Saya justru menikmati makan siang di angkringan, menunggu sate ampela
saya selesai dibakar, tentu harus bergantian dengan pengunjung lain. Tungkunya
cuma satu dan si Bapak harus membakar jahe, sate usus juga beberapa gorengan.
Berahrap hujan turun sehingga saya masih bisa duduk di angkringan lebih lama,
melahap nasi saya perlahan, berbincang dengan orang-orang yang berbeda. Pernah
suatu kali saya mengobrol dengan dosen fakultas kedokteran hewan UGM yang
mungkin kalau saya bertemu di kampus tidak akan pernah menyapa saya. Hari lain
saya nimbrung bapak-bapak dari Dinas Pariwisata Kota Jogja yang sedang
bertransaksi sebongkah batu akik. Katanya akik ini tidak dijual dengan uang.
Bayarannya cukup dengan membangun sebuah mushola di sebuah desa di Bantul.
Minggu lalu, saya berbarengan dengan mbak-mbak SPG yang mengobrol akrab dengan
supirnya, mirip seperti film Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya garapan Anggi Noen.
Apapun yang terjadi di angkringan sore itu,
saya merasa seperti orang yang sedang menunggu sebuah kereta di peron stasiun.
Saya rasa orang-orang di dalam gerbong yang melaju itu sedang kehilangan sesuatu.
Mereka terlalu laju sampai tidak tahu ada anak kecil yang mengusap tangisnya
mendapati kereta ibunya tidak datang sore ini.
* ditulis pada Februari tahun lalu
Komentar
Posting Komentar