Langsung ke konten utama

Ibu Suharti*

Saya bertemu beliau di sebuah latihan teater. Masih ingat waktu itu ia berperan sebagai Pak Rebo, penjaga makam Kyai Bakal, yang rumahnya dekat pabrik. Dari awal karakter Pak Rebo sudah merasuk di diri Bu Har, begitu saya memanggilnya. Mungkin karena Pak Rebo dan Bu Har punya kesamaan: tampangnya selalu menunjukkan ketidakpedulian. Padahal, ia yang paling hafal dan mengerti karakter teman-temannya. Sikap diam Bu Har semata-mata adalah caranya meredakan ribut yang tidak perlu. 
Selama empat bulan saya menemani para ibu berlatih teater, Bu Har tidak pernah ikut berdebat soal jam berapa para ibu musti dijemput, rumah siapa yang ketempatan arisan berikutnya, atau siapa yang musti menggantikan peran Bu Yati. Tapi selama empat bulan itu, Bu Har juga yang membisikkan pada saya watak masing-masing ibu. Bu Har yang meminta saya maklum tiap kali Bu Partini bicara panjang lebar. Beliau juga yang mengingatkan Mbah Warti kalau hari itu beliau sudah menanyakan nama saya untuk ketiga kalinya. Kalau Pak Sutradara tidak enak berteriak di dekat kuping Bu Nirah yang sudah kesulitan mendengar, Bu Har juga yang akhirnya turun tangan mendekati Bu Nirah lalu berteriak kencang. 
Bulan Agustus lalu, saya melayat ke rumah beliau. Suaminya yang kedua meninggal.. Waktu saya datang, beliau senang sekali meski masih kelihatan juga sedihnya. Bu Har bercerita dulu sewaktu muda ia sempat menolak lamaran suami keduanya. Waktu itu Bu Har baru pulang dari Plantungan. Banyak temannya sekampung yang sudah hilang atau meninggal. Para tetangga belum sepenuhnya menerima meski keluarganya menyambut dengan tangan terbuka. Satu-satunya pria yang Bu Har cintai dan ia nikahi pertama kali belum jelas kabarnya. Suaminya hilang belasan tahun sebelumnya. Beberapa minggu sebelum Bu Har akhirnya ikut ditangkap lalu dibawa ke Ambarawa, Bulu dan terakhir Plantungan. Ada yang bilang suami Bu Har sudah meninggal di Buru, tapi Bu Har tidak percaya. Bu Har yakin firasat itu ada, dan dia tidak punya firasat apapun soal kematian suami pertamanya. Keyakinan itulah yang membuat Bu Har menolak lamaran suami kedua.
Tapi kita tahu, Bu Har akhirnya menikah lagi. Ia bilang tidak sampai hati membiarkan orangtuanya khawatir atas hidupnya: seorang perempuan muda yang sudah menjanda, dan ada tanda di KTP nya. Aih, apa kata tetangga. Ia akhirnya menerima juga lamaran itu dengan syarat: jika nanti di suatu hari suami pertamanya pulang, maka Bu Har akan kembali pada suaminya yang pertama dan menceraikan yang kedua. Sepakatlah kedua keluarga dan menikahlah ia. 
Sampai suami keduanya meninggal, Bu Har tidak pernah minta cerai. Suaminya yang pertama belum juga pulang. Suatu hari, dalam perjalanan piknik bersama para ibu, agak ragu saya bertanya, "Apakah Bu har pada akhirnya bisa mencintai suami yang kedua?" Bu Har diam agak lama lalu menjawab, "Saya menangisi kematian suami kedua karena selama ini dia yang menemani saya. Dia yang menghidupi dan mencintai anak-anak saya. Tapi soal cinta, itu perkara lain..." Bu Har seperti akan melanjutkan ceritanya, tapi tidak jadi dan hanya diam membuang muka ke jendela. Bu Har tidak menangis waktu itu, tapi dari gerak-geriknya saya tahu pertanyaan tadi seharusnya tidak perlu saya tanyakan. Tidak saya sangka, Bu Har ternyata masih mau melanjutkan, "Saya masih menunggu yang belum pulang. Dan tidak tahu sampai kapan." Giliran saya yang diam. Saya menyesal sudah bertanya hanya karena penasaran dengan cerita-cerita roman jaman dulu kala. Siang hari yang seharusnya jadi piknik menggembirakan malah jadi mendung menggelantung. Untung Mbah Warti yang duduk di sebelah Bu Har entah sengaja atau tidak dengan polosnya memecah kebisuan, "Mbok aku diajak ngobrol Har." Bu Har tertawa. 
Dan di antara perasaan bersalah yang masih tersisa, saya akhirnya bisa merasa sedikit lega.

*cerita hidup Bu Suharti sedikit banyak mengingatkan saya pada novel Amba garapan Laksmi Pamuntjak. Tapi ketika saya hadir di pemakaman suaminya, saya jadi ingat puisi Dea Anugerah di salah satu antologi Misa Arwah yang berjudul ‘Teringat Kuburan di Desa’. Puisinya singkat saja, tapi mau saya tulis disini takut melanggar hak cipta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir Pekan

Akhir pekan dan kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Kau tidak punya seseorang yang bisa dikunjungi di kota asing ini. Sementara jalan-jalan yang kau ingat sudah terlalu sesak untuk ditaruh kenangan. Kemarin pagi kau berharap hari ini datang lebih cepat. Tapi sampai siang kau masih menatap tembok yang itu juga. Nyaris tak sadar, kau membiarkan harimu habis tanpa membuat janji pada siapapun. Di antara sepi yang makin lama makin mengeras, kau temui masa lalu sering datang tiba-tiba. Kau pungut lagi buku itu. Pemberian dari teman-temanmu selepas kuliah. Kau ingat nasihat salah satu dari mereka: bahwa rindu hanya milik orang-orang manja. Sementara kota tak punya cukup waktu untuk mendengarkan nostalgia. Akhir pekan dan kau masih menunggu kapan bisa memesan kereta untuk pulang. *sebuah tulisan yang diilhami dari puisi Aan Mansyur di bukunya Sebelum Sendiri . 

10 Juni 2019

Belakangan perasaan cemas dan khawatir yang tidak perlu kembali lagi saya alami. Sejak pindah ke Jakarta, kecemasan berlebih memang jadi persoalan utama saya. Tapi di akhir 2018, semuanya mulai membaik. Tahun 2019 menjadi tahun yang cukup labil apalagi ada banyak capaian yang akhirnya kesampaian di akhir tahun. Baru bulan Mei kemarin, kebiasaan meringkuk di lantai dingin kamar mandi dengan lampu yang seluruhnya padam mulai lagi. Saya tidak tahu secara tepat pemicunya apa, tapi yang saya rasakan selama PSBB ini sisi introvert saya seperti makin mendominasi. Saya males ketemu orang, takut membuka whatsapp, dan selalu berdebar tiap ada dering telepon. Waktu saya menulis ini pun, background data Whatsapp sengaja saya matikan biar pesan bisa masuk hanya jika saya membuka Whatsapp. Saya sedang dalam ketakutan menyambut hari Jumat dimana saya harus masuk kantor dan bertemu rekan, atasan, pimpinan. Sariwan mulai muncul, asam lambung mulai naik dan konsentrasi mulai buyar. Kalau sudah begini ...