Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Musso

Di minggu siang yang terik, ia bersembunyi di kamar mandi setelah pasukan Kapten Sumadi mengepungnya dan memaksanya untuk menyerah. Jasadnya lalu dibakar dan dipertontonkan di Ponorogo, dua setengah bulan setelah Soekarno menyambutnya dengan peluk dan air mata. Ada yang berbeda dari Musso. Dia tidak memilih untuk menggantung dirinya atau menembakkan peluru ke keningnya. Menurutnya hidup bukanlah kesia-siaan. Dan caranya mati bukan pula sia-sia.

Satu Kilometer dari Kampus

Manusia lahir dengan cita-cita. Apa yang manusia inginkan kemudian diinterpretasikan dalam doa, dalam nama yang diberikan oleh ibu kepada anaknya, Dinamai Mulyanto agar jiwanya mulia, Gunawan agar kelak menjadi manusia berguna atau Krisdayanti agar pintar menyanyi. Kampus ini pun begitu. Pendirinya mempunyai cita-cita yang besar bagi kampus ini. Dinamainya Kampus Kerakyatan, agar kelak kampus ini merakyat. Dulu, di awal pendiriannya, siapapun boleh memanfaatkan kampus ini untuk penghidupannya. Siapapun boleh belajar, akademisi boleh mengajar, penduduk sekitar boleh jadi tukang kebunnya, tukang parkirnya dan beberapa sekedar berjualan di jalan-jalannya. Seperti manusia, kampus ini bermimpi tentang pencapaian-pencapaian. Visi untuk menjadi lebih baik, lalu lebih baik lagi dan ingin jadi yang terbaik dari yang paling baik. Sedang, selalu ada harga yang harus dibayar untuk menjadi lebih baik lagi. Untuk menjadi lebih baik lagi, kampus harus disulap menjadi sebuah kota pendidikan....

Hatta Corner Sebelum Jam 4

Sekarang ini, kalau mau menulis saya harus baca buku dulu. Cari inspirasi. Seperti sekarang, saya lagi betah di Hatta Corner, bagian lantai tiga dari Perpus Pusat UGM. Buku-bukunya sudah tua, sudah lepas covernya. Jadilah saya baca disitu karena tidak boleh dipinjam lagi –takut rusak.  Belakangan memang saya lagi suka menulis. Menulis apa saja. Tidak seperti dulu, saya takut menulis. Takut dinilai. Tapi lalu saya coba belajar dari orang lain. Saya baca buku-buku GM, Sujiwo Tejo, Emha, Pramudya, Dee, Donny Dirgantoro. Dari yang serius sampai yang santai. Dari yang blak-blakan sampai yang kepura-puraan. Kalau dilihat lagi tulisan blog saya dari awal, gaya tulisan saya ganti-ganti. Habis baca buku Dee jadi keliatan puitis, habis baca Donny jadi kayak teenlit, habis baca GM jadi banyak kutipan dan nama tokohnya. Kita belajar dari kesalahan, meniru  orang lain bukanlah suatu kesalahan asal masih di koridor yang sah. Sejarah Indonesia bahkan sejarah tentang peniruan. Menir...