Langsung ke konten utama

Hatta Corner Sebelum Jam 4


Sekarang ini, kalau mau menulis saya harus baca buku dulu. Cari inspirasi. Seperti sekarang, saya lagi betah di Hatta Corner, bagian lantai tiga dari Perpus Pusat UGM. Buku-bukunya sudah tua, sudah lepas covernya. Jadilah saya baca disitu karena tidak boleh dipinjam lagi –takut rusak.  Belakangan memang saya lagi suka menulis. Menulis apa saja. Tidak seperti dulu, saya takut menulis. Takut dinilai.

Tapi lalu saya coba belajar dari orang lain. Saya baca buku-buku GM, Sujiwo Tejo, Emha, Pramudya, Dee, Donny Dirgantoro. Dari yang serius sampai yang santai. Dari yang blak-blakan sampai yang kepura-puraan. Kalau dilihat lagi tulisan blog saya dari awal, gaya tulisan saya ganti-ganti. Habis baca buku Dee jadi keliatan puitis, habis baca Donny jadi kayak teenlit, habis baca GM jadi banyak kutipan dan nama tokohnya.

Kita belajar dari kesalahan, meniru  orang lain bukanlah suatu kesalahan asal masih di koridor yang sah. Sejarah Indonesia bahkan sejarah tentang peniruan. Meniru Eropa, meniru Jepang. Tidak salah. Manusia hidup dewasa juga dari meniru. Bayi  perempuan meniru ibunya, bayi laki-laki meniru ayahnya. Pada akhirnya kita bisa berkembang sendiri, menemukan diri kita sendiri.

Jadi, apa salahnya menulis apa saja. Biarkan orang lain yang menilai. Kalau jelek ya diperbaiki lagi. Belajar dari pelukis yang diceritakan Goenawan Mohamad di Catatan Pinggir 4 (saya lupa namanya) Seumur hidupnya dia hanya melukis satu jenis lukisan, setiap dua minggu dia melihat lukisannya dan merasa lukisannya jelek. Lalu dia ganti lagi lukisannya, dia perbaiki. Sampai dia merasa puas sendiri. Sama seperti kita, para penulis yang menemukan gaya kita sendiri.

Kalau kata Goenawan Mohamad, penulis itu seperti dirigen. Di panggung yang satu, si dirigen memainkan lagu tertentu, di panggung lain, lagunya lain lagi. Tapi, yang dia sajikan tetap sama, dirinya sendiri. Begitu pula kita, semua tulisan kita, entah yang picisan atau yang sarat pemikiran, entah puitis entah analitis Semua adalah usaha untuk menyajikan diri kita sendiri, bukan orang lain. Kita pun sama seperti dirigen, menunggu respon penonton. Berharap menerima applause, keterkejutan, protes, amarah asal bukan sikap tidak acuh. Pada akhirnya nanti kita akan menemukan mana yang diri kita, mana yang bukan.

Waktu sudah hampir jam empat, Hatta Corner sudah mau tutup. Terakhir, saya lihat satu kertas yang terselip di buku Emha Ainun Nadjib yang saya baca. Kertas itu bertuliskan coretan tentang kurva indiferens dan asumsi ceteris paribus. Bahkan anak ekonomi saja mau baca sastra, apa salahnya kita menulis apa saja?

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ibu Suharti*

Saya bertemu beliau di sebuah latihan teater. Masih ingat waktu itu ia berperan sebagai Pak Rebo, penjaga makam Kyai Bakal, yang rumahnya dekat pabrik. Dari awal karakter Pak Rebo sudah merasuk di diri Bu Har, begitu saya memanggilnya. Mungkin karena Pak Rebo dan Bu Har punya kesamaan: tampangnya selalu menunjukkan ketidakpedulian. Padahal, ia yang paling hafal dan mengerti karakter teman-temannya. Sikap diam Bu Har semata-mata adalah caranya meredakan ribut yang tidak perlu.  Selama empat bulan saya menemani para ibu berlatih teater, Bu Har tidak pernah ikut berdebat soal jam berapa para ibu musti dijemput, rumah siapa yang ketempatan arisan berikutnya, atau siapa yang musti menggantikan peran Bu Yati. Tapi selama empat bulan itu, Bu Har juga yang membisikkan pada saya watak masing-masing ibu. Bu Har yang meminta saya maklum tiap kali Bu Partini bicara panjang lebar. Beliau juga yang mengingatkan Mbah Warti kalau hari itu beliau sudah menanyakan nama saya untuk ketiga kaliny...

Akhir Pekan

Akhir pekan dan kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Kau tidak punya seseorang yang bisa dikunjungi di kota asing ini. Sementara jalan-jalan yang kau ingat sudah terlalu sesak untuk ditaruh kenangan. Kemarin pagi kau berharap hari ini datang lebih cepat. Tapi sampai siang kau masih menatap tembok yang itu juga. Nyaris tak sadar, kau membiarkan harimu habis tanpa membuat janji pada siapapun. Di antara sepi yang makin lama makin mengeras, kau temui masa lalu sering datang tiba-tiba. Kau pungut lagi buku itu. Pemberian dari teman-temanmu selepas kuliah. Kau ingat nasihat salah satu dari mereka: bahwa rindu hanya milik orang-orang manja. Sementara kota tak punya cukup waktu untuk mendengarkan nostalgia. Akhir pekan dan kau masih menunggu kapan bisa memesan kereta untuk pulang. *sebuah tulisan yang diilhami dari puisi Aan Mansyur di bukunya Sebelum Sendiri . 

10 Juni 2019

Belakangan perasaan cemas dan khawatir yang tidak perlu kembali lagi saya alami. Sejak pindah ke Jakarta, kecemasan berlebih memang jadi persoalan utama saya. Tapi di akhir 2018, semuanya mulai membaik. Tahun 2019 menjadi tahun yang cukup labil apalagi ada banyak capaian yang akhirnya kesampaian di akhir tahun. Baru bulan Mei kemarin, kebiasaan meringkuk di lantai dingin kamar mandi dengan lampu yang seluruhnya padam mulai lagi. Saya tidak tahu secara tepat pemicunya apa, tapi yang saya rasakan selama PSBB ini sisi introvert saya seperti makin mendominasi. Saya males ketemu orang, takut membuka whatsapp, dan selalu berdebar tiap ada dering telepon. Waktu saya menulis ini pun, background data Whatsapp sengaja saya matikan biar pesan bisa masuk hanya jika saya membuka Whatsapp. Saya sedang dalam ketakutan menyambut hari Jumat dimana saya harus masuk kantor dan bertemu rekan, atasan, pimpinan. Sariwan mulai muncul, asam lambung mulai naik dan konsentrasi mulai buyar. Kalau sudah begini ...