Aku ingin menghapus rumah dari kepalaku. Tempat tangis bayi mereda di balik puting ibunya. Dimana sesal dan kecewa seperti jangkrik yang sesekali berbunyi di sela rumput basah setelah hujan di pekarangan. Aku ingin menghapus rumah dari kepalaku dan menggantikannya dengan kota yang riuh. Tempat hasrat dan kerja berkejaran seperti gerbong kereta cepat. Dimana malam tak membiarkan manusia lelap, sementara orang-orang manja terseok di ujung jalan sebelum kuburan cina. Aku ingin menaruh kota di kepalaku dan menyematkan cinta di atasnya. Supaya rumah tak bisa pulang dan larut menjadi keringat di kemeja. Tapi adakah kota yang tak menyimpan rindu dalam dini harinya?
saya dalam satu perjalanan