Langsung ke konten utama

Vakansi Akhir Pekan

Ini hari Sabtu dan saya tidak bisa bekerja. Sedari pagi saya sudah duduk disini, lantai 2 sebuah warnet yang menghadap langsung apartemen yang baru dibangun. Harusnya saya mengerjakan sebuah esai dan menggarap sebuah penelitian, tapi pikiran saya kemana-mana. Kesudut-sudut apartemen yang sedang dibangun, ke sebuah kebun tebu di kampung halaman, lalu ke ibukota dan kembali lagi ke kota ini, di depan sebuah altar gereja. Saya dan Anda berdiri disitu. Anda memohon pekerjaan, gaji, jodoh dan ujub lainnya yang sering dirapal orang-orang. Sementara saya memohon liburan.

Hidup saya belakangan ini kacau. Saya menginginkan liburan tiap detik. Untuk membaca komik kesukaan atau buku puisi yang dulu dilarang. Liburan saya menprasyaratkan pekerjaan yang sudah selesai. Tapi tiap kali saya menginginkannya tiap kali pula saya menundanya. Bayangan tentang liburan selalu membuat saya berhenti bekerja.

Saya selalu membayangkan tidak seharusnya ada buruh seperti saya: yang bekerja di luar jam kerja, digaji berdasar tingkat pendidikan tinggi. Tapi apakah memang begitu seharusnya? Apakah hidup harus selalu mengasihani orang-orang malas seperti saya? Atau justru menjadi malas adalah bentuk perlawanan itu sendiri? Kalau memang begitu adanya, bisakah saya membayangkan hidup dimana saya dapat melamun di tepi beranda sepagian, melihat pematang sawah yang sudah harus dipanen sebelum lebaran, lalu mengupas kulit kentang sambil menunggu waktu buka puasa tiba.

**
Di umur saya yang masih muda ini, entah kenapa saya membayangkan untuk segera menua. Lalu akan saya bacakan sajak-sajak Aan bagi orang yang setiap pagi minta dibuatkan secangkir teh, kopi atau susu. Sambil mengemasi piring dan cangkir di meja, saya akan bilang: “Nanti kalau kantor mengijinkanmu cuti, maukah kau kuajak menjadi  renta, lalu kembali menjadi anak-anak?” Karena nampaknya hidup sudah cukup asyik untuk tidak mengejar apa-apa, untuk tidak kemana-mana. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ibu Suharti*

Saya bertemu beliau di sebuah latihan teater. Masih ingat waktu itu ia berperan sebagai Pak Rebo, penjaga makam Kyai Bakal, yang rumahnya dekat pabrik. Dari awal karakter Pak Rebo sudah merasuk di diri Bu Har, begitu saya memanggilnya. Mungkin karena Pak Rebo dan Bu Har punya kesamaan: tampangnya selalu menunjukkan ketidakpedulian. Padahal, ia yang paling hafal dan mengerti karakter teman-temannya. Sikap diam Bu Har semata-mata adalah caranya meredakan ribut yang tidak perlu.  Selama empat bulan saya menemani para ibu berlatih teater, Bu Har tidak pernah ikut berdebat soal jam berapa para ibu musti dijemput, rumah siapa yang ketempatan arisan berikutnya, atau siapa yang musti menggantikan peran Bu Yati. Tapi selama empat bulan itu, Bu Har juga yang membisikkan pada saya watak masing-masing ibu. Bu Har yang meminta saya maklum tiap kali Bu Partini bicara panjang lebar. Beliau juga yang mengingatkan Mbah Warti kalau hari itu beliau sudah menanyakan nama saya untuk ketiga kaliny...

Akhir Pekan

Akhir pekan dan kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Kau tidak punya seseorang yang bisa dikunjungi di kota asing ini. Sementara jalan-jalan yang kau ingat sudah terlalu sesak untuk ditaruh kenangan. Kemarin pagi kau berharap hari ini datang lebih cepat. Tapi sampai siang kau masih menatap tembok yang itu juga. Nyaris tak sadar, kau membiarkan harimu habis tanpa membuat janji pada siapapun. Di antara sepi yang makin lama makin mengeras, kau temui masa lalu sering datang tiba-tiba. Kau pungut lagi buku itu. Pemberian dari teman-temanmu selepas kuliah. Kau ingat nasihat salah satu dari mereka: bahwa rindu hanya milik orang-orang manja. Sementara kota tak punya cukup waktu untuk mendengarkan nostalgia. Akhir pekan dan kau masih menunggu kapan bisa memesan kereta untuk pulang. *sebuah tulisan yang diilhami dari puisi Aan Mansyur di bukunya Sebelum Sendiri . 

10 Juni 2019

Belakangan perasaan cemas dan khawatir yang tidak perlu kembali lagi saya alami. Sejak pindah ke Jakarta, kecemasan berlebih memang jadi persoalan utama saya. Tapi di akhir 2018, semuanya mulai membaik. Tahun 2019 menjadi tahun yang cukup labil apalagi ada banyak capaian yang akhirnya kesampaian di akhir tahun. Baru bulan Mei kemarin, kebiasaan meringkuk di lantai dingin kamar mandi dengan lampu yang seluruhnya padam mulai lagi. Saya tidak tahu secara tepat pemicunya apa, tapi yang saya rasakan selama PSBB ini sisi introvert saya seperti makin mendominasi. Saya males ketemu orang, takut membuka whatsapp, dan selalu berdebar tiap ada dering telepon. Waktu saya menulis ini pun, background data Whatsapp sengaja saya matikan biar pesan bisa masuk hanya jika saya membuka Whatsapp. Saya sedang dalam ketakutan menyambut hari Jumat dimana saya harus masuk kantor dan bertemu rekan, atasan, pimpinan. Sariwan mulai muncul, asam lambung mulai naik dan konsentrasi mulai buyar. Kalau sudah begini ...