Langsung ke konten utama

Buku untuk Penikmat Burjo Palm Kuning

Belakangan saya suka sekali mencari buku untuk kemudian diberikan pada orang lain. Memberi buku sebagai bingkisan, entah dalam rangka apa, adalah kegiatan yang menyenangkan yang mungkin sekali menjadi hobi baru saya ke depan. Tidak seperti membelikan bunga, kue, baju, mainan atau cinta –kalau ada, buku adalah bingkisan yang tidak akan berkurang nilainya. Entah dibaca hari ini atau lusa atau bertahun-tahun ke depan, buku akan selalu punya maknanya yang kekal –yang mungkin justru bertambah seiring makin banyak memori yang melekat pada sebuah buku.

Sewaktu saya memberi buku, saya selalu memberikan yang sudah pernah saya baca. Ini bukan karena saya pelit –sama sekali tidak, melainkan karena dua alasan dasar: Pertama, membagi buku yang sudah pernah saya baca justru lebih romantis ketimbang memberi buku yang sama sekali baru dan masih berbungkus plastik. Coba kita bayangkan demikian: jika kita mengartikan membagi buku sama dengan memberi sebagian dari diri kita untuk orang lain, membagi buku berarti sebaliknya: ia tidak pernah mengurangi apapun yang pernah kita miliki.  Dengan kata lain, kita memberi seluruhnya, tanpa kita perlu kehilangan apa-apa; kita memilikinya bersama tanpa menimbulkan kesan memberi yang lain sebagian yang tersisa.

Saya selalu membayangkan orang yang mendapatkan buku akan membaca setiap kata dan setiap halaman sebagaimana saya sebelumnya juga membacanya. Mereka ikut mengalami proses membaca sebagaimana saya: tersenyum, tertegun, bosan, penasaran, terharu sampai tertawa ngakak. Mereka ikut menelusur jejak-jejak saya yang tertinggal di tiap halaman buku termasuk ketika ada bekas noda makanan yang tumpah atau lipatan tanda pengingat sampai mana bagian yang sudah terbaca. Semacam ada nostalgia yang dibagi bersama meski dilakukan dalam waktu yang berbeda, dalam ruang yang berlainan.

Alasan kedua, memberi buku yang sudah terbaca adalah cara memastikan  supaya buku saya jatuh di tangan yang tepat sekaligus memastikan orang tersebut mendapat buku yang tepat. Itu mengapa memberi bingkisan buku bisa jadi kegiatan yang seru dan menyenangkan. Memberi buku membuat saya menebak-nebak buku apa yang akan dibaca dengan antusias oleh teman-teman saya, yang membuat saya sekaligus mengenal mereka lebih dalam, lebih jauh lagi. Dan bagian yang paling seru adalah menunggu mereka membuka buku yang saya beri, melihat ekspresi girang, kecewa atau biasa saja.



Kemarin, sewaktu saya memutuskan untuk meninggalkan Jogja dan hijrah ke ibukota, saya sibuk sekali memilihkan buku apa yang akan saya beri untuk segelintir teman yang tersisa disini. Ada yang saya pesan dari luar pulau dan baru datang seminggu setelahnya, ada yang saya beli di toko terdekat untuk lalu saya baca lebih dulu. Setelah bertanya sana-sini, pura-pura ingin pinjam buku padahal cuma memastikan apakah dia sudah punya atau belum, akhirnya saya membuat list ini dengan satu-dua pertimbangan yang entah benar-tidak:

Pertama,  Dawuk untuk Tasya.
Saya tahu jelas kalau Tasya suka novel-novel yang bicara tentang perempuan. Salah satu buku yang membuatnya masuk dalam dunia per-gender-an (bukan kata yang tepat) adalah tulisan Djenar Maesa Ayu tapi saya lupa yang mana. Ia lalu banyak membaca tulisan Nawal el Saadawi juga. Saya pikir –dan juga dinasihatkan Rijen –tidak tepat kiranya membelikan lagi buku-buku yang Tasya sudah sering baca. Seperti menggarami lautan katanya. Jadilah bingkisan yang semula sekuel Tempurung-nya Oka Ruksmini bergeser menjadi Dawuk-nya Mahfud Ihwan. Mungkin cerita soal Inayatun –istri Mat Dawuk, menyentil jiwa feminisme dalam diri Tasya juga. Tapi yang paling ingin saya tawarkan sebenarnya soal ketidakpedulian Mat Dawuk pada opini dan asumsi orang tentang dirinya. Bagaimana kesendirian membuatnya keras pada hidup dan bukan sebaliknya. Meski pada akhirnya Mat Dawuk hanya tokoh khayalan Warto Kemplung, tapi nampaknya kami sepakat bahwa manusia bisa sekeras itu pada hidup.  

Selain alasan di atas, Dawuk adalah buku yang paling ingin saya miliki sejak pertama kali kabar terbitnya beredar. Setelah jatuh cinta pada novel Kambing dan Hujan, saya jadi berharap banyak pada novel ketiga Mahfud ini. Berkali-kali mencari di toko buku tapi selalu kehabisan sampai kemudian saya menemukannya di Toga Mas dengan harga diskon. Untuk itu, memberi buku yang paling saya ingini buat Tasya jadi terasa tepat mengingat segenap bantuan dan simpati yang Tasya pernah beri. 

Kedua, Muslihat Musang Emas untuk Anggar
Sebelum kumpulan cerpen ini sampai di toko-toko buku, saya dan Anggar sudah mengincarnya. Setelah membaca Raden Mandasia, nama Yusi Avianto Pareanom jadi begitu menarik dan pantas ditunggu lagi. Tapi sampai kumpulan cerpen ini diterbitkan lagi, Anggar belum jadi membelinya karena katanya sedang irit beli buku. Anggar dan saya pernah mengobrol banyak soal tingkah Raden Mandasia tapi lebih tertarik pada cerita Raden Langkir beserta pasukan kerdilnya. Kami juga membayangkan semisal Raden Mandasia dipertunjukkan, pasti akan jadi film laga kolosal yang menakjubkan –asal bukan Reza Rahardian yang menjadi aktor utama. Tapi kami sepakat tokoh Nyai Manggis harus diperankan Happy Salma.  

Memang, novel Yusi yang satu itu membuat pembacanya mampu terseret dalam dunia yang sama sekali lain: masa dimana pendekar silat dan ilmu kanuragan jadi hal yang lumrah. Novel Yusi yang pertama ini akhirnya membuat Muslihat Musang Emas (MME) jadi begitu menggiurkan. Meski pada akhirnya harapan kami ketinggian, tapi ada juga satu-dua cerpen yang saya suka seperti MME itu sendiri, Hengky Tornado dan Alfanso . Anggar bisa jadi punya pendapat yang berbeda, tapi cara Yusi membangun narasi di setiap cerpen MME nampak begitu sabar, mengalir begitu lancar meski pelan. Itu membuat saya bisa menikmati ceritanya yang sama sekali anti-klise dan menawarkan twist-ending yang mengejutkan tapi tidak dalam tempo yang terburu-buru.

Berbeda dengan buku lainnya yang sudah saya buka dan baca lebih dulu, saya terpaksa membelikan Anggar buku yang baru dan masih tersampul plastik. Alasannya teknis, buku yang sudah saya baca sedang berada di tangan kakak saya dan oleh karenanya tidak mungkin saya berikan dengan mudah ke orang lain. 

Ketiga, Telembuk untuk Riza.
Semula saya ingin memberikan Dawuk untuk Riza, tapi Riza sudah mendapat yang paling coccok untuknya yaitu Telembuk. Telembuk ditulis oleh Kidung Darma Romansa setelah melalui riset yang panjang mengenai seluk beluk dangdut Pantura. Saking presisinya, seorang penyanyi dangdut asal Indramayu bernama Nunung Alvi sampai mengira Kidung pernah terlibat dalam industri orkes melayu. Meski pada akhirnya riset Kidung tidak berhasil menyajikan Telembuk secanggih Mahfud Ihwan menarasikan tetek bengek bollywood, novel ini tidak bisa dibilang buruk.
Saya tidak tahu kenapa, tapi banyak buku belakangan ini (misalnya banyak tulisan Eka Kurniawan, kedua novel Mahfud Ihwan yang terbaru, dan novel Kidung sendiri) mengambil daerah rural dengan segala kesederhanaannya sebagai latar cerita. Jika ketiganya dibandingkan jelas saya masih memilih Eka. Namun, yang unik dari Kidung adalah caranya mengambil banyak sudut pandang dalam satu cerita, mendapati tokoh yang di pertengahan buku muncul dan memprotes sang narator lalu mengubah sebagian isi ceritanya.

Buku ini menjadi cocok untuk Riza karena pertama dan paling utama: Riza adalah penikmat dangdut sejati. Meski di kampungnya lebih banyak qosidahan, tapi Riza hafal betul cengkok Nela Karisma yang lebih cihuy dibanding Via Vallen. Kedua, dalam jagat ilmu Sosio-Humaniora, Riza adalah Indonesianis yang kalau ditelateni mungkin bisa meneruskan legacy Ben Anderson. Riza rajin sekali menulis. Apa saja yang ia amati, dengarkan atau obrolkan tiba-tiba bisa tercetus jadi sebuah ide tulisan. Novel Telembuk yang berkisah soal kehidupan manusia-manusia di pantai utara Jawa ini harapannya juga bisa menjadi rujukan Riza untuk lebih mengenal Indonesia dan manusia di dalamnya.

Keempat, Perempuan yang Menemukan Cintanya Lewat Mimpi untuk Tya.
Saya mengenal Tya belum lama. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan dan itu mengapa sulit memberinya sebuah buku. Meski begitu, saya tahu Tya teman yang baik dan oleh karenanya saya ingin memberinya satu juga. Pertama mengenal Tya, saya pikir orangnya pendiam, tipikal anak pesantren yang tidak neko-neko. Memang benar sih tidak neko-neko, tapi pelan-pelan saya tahu Tya orang yang suka sekali mengobrol. Dan untuk semua yang sedang Tya hadapi sekarang, dia juga orang yang penyabar –tapi sama sekali tidak pasrah.

Cuma itu yang saya tahu soal Tya. Saya sama sekali tidak tahu apakah Tya suka membaca atau tidak, dan jenis tulisan apa yang dia suka. Saya pernah dengar kalau Tya bergabung dalam PPMI dan itu tidak membantu apapun. Pertimbangan saya memberikan kumcer Eka Kurniawan sebenarnya lebih karena saya ingin main aman. Tulisan Eka menurut saya selalu universal, bisa diterima banyak kalangan dan selalu memuaskan. Jadi waktu itu saya pikir, Tya pasti suka. Ide cerita Eka di kumcer ini jauh lebih sederhana ketimbang novel-novelnya yang terkenal lebih dulu. Tapi cara bertutur Eka yang khas, yang membuat pembacanya seperti tersedot dan ingin terus membacanya, membuat kumcer ini jadi tidak membosankan. Eka bisa bercerita tentang kisah cinta yang sederhana tapi tetap kelihatan mewah. Oh ya, seperti biasa Eka bisa menyelipkan sedikit mitos dan hal-hal di luar nalar yang entah kenapa tidak pernah merusak keindahan cerita. Cerita Perempuan yang Menemukan Cintanya Lewat Mimpi semoga bisa menghindarkan Tya dari segala keputusasaan dan menghidupi dirinya dengan lebih banyak sukacita.

Kelima, Ratu Sekop untuk Kiki. Dengan menyesal harus saya katakan, ini kali kedua saya gagal memberi buku untuk Kiki. Keduanya gagal karena Kiki sudah punya bukunya terlebih dulu. Kegagalan pertama terjadi di hari ulangtahun Kiki dan saya bawakan buku Aan Mansyur berjudul Cinta yang Merah yang benar-benar baru tersedia di Togamas beberapa hari sebelumnya. Untuk informasi, Kiki itu tipikal orang yang setiap bulan ke Toga Mas melihat apa saja buku baru yang bagus dan langsung membeli semuanya. Anggaran belanja Kiki tiap kali ke toko buku sama dengan uang saku saya sebulan, jadi saya bisa apa.

Untuk mengantisipasi kegagalan pertama terjadi lagi, saya pura-pura menanyakan ke Kiki apakah dia pernah membaca buku ini,itu atau anu. Waktu saya tanya, Kiki bilang tidak pernah mendengar nama Iksaka Banu. Kiki juga bercerita tentang kemalasannya membaca novel panjang yang alurnya membosankan. Saya lantas berpikir kumpulan cerpen Iksaka Banu jadi pilihan tepat. Ada dua buku dari Iksaka Banu berjudul Ratu Sekop dan Semua untuk Hindia. Yang kedua sudah bisa dipastikan Kiki belum punya karena tidak diterbitkan lagi dan harus print on demand yang butuh waktu lebih dari sebulan –barangkali. Lebih lagi, Semua untuk Hindia cenderung cocok untuk Rijen yang sebelumnya sering menanyakan keberadaan buku ini. (Belakangan saya tahu, Rijen bertanya karena tengah mencarikan buku itu untuk saya, dan tidak dapat, dan akhirnya buku itu tidak dimiliki siapapun.)

Pada akhirnya Kiki mendapatkan buku Ratu Sekop. Cerita soal pencarian model untuk lukisan Ratu Sekop, pertemuan dengan Judas Iskariot atau seorang istri yang bisa membaca pikiran setelah kesetrum pastilah tidak membosankan –cenderung absurd malah. Tapi memang dasar Kiki anak pemilik modal, sekali lagi dia sudah membelinya lebih dulu. Ya sudah. Konon kabarnya, dia tetap menyimpan buku yang saya beri dan memberikan sisanya untuk orang lain – dugaan saya kemungkinan besar orang itu Alif.

Keenam, Resep Membuat Jagat Raya untuk Alif.
 Alif suka sekali buku puisi, pada dasarnya dia suka hampir semua buku bahkan buku primbon sekalipun.  Saya rasa cuma Alif yang mengisi lemari baju dan rak makannya dengan buku -dan masih berpikir untuk menambah lemari lagi. Selama ini saya sering minta referensi dari Alif sebelum membeli (atau meminjam) buku. Ini mengapa menemukan buku yang tepat dan belum Alif punya itu jadi tantangan yang paling sulit. Oh ya, selain Kiki, Alif ini juga bergelimang harta dan punya kebiasaan membeli banyak buku sekaligus. Cuma untuk perkara selain buku, Alif sedikit lebih irit –kalau tidak bisa dibilang pelit.

Akhirnya saya beli buku yang ditulis anak kecil bernama Naya. Saya mendengar Naya pertama kali waktu dia membaca puisi di Kampungbuku (saya cuma melihat rekamannya waktu itu). Sekalipun masih sembilan tahun, tapi Naya pintar sekali mencari metafora dari apapun yang dilihatnya. Naya misalnya, mengiaskan kura-kura di kebun binatang seperti penjahat, terpenjara dan tidak bisa kemana-mana. Lalu kuda nil kesepian, seperti menanti orangtuanya di ruang tunggu. Cara Naya bermetafor sedikit banyak mengingatkan saya pada puisi-puisi Alif yang kerap memungut barang-barang sederhana seperti secangkir susu atau bunga matahari.

Berdasar hasil pembacaan saya atas Naya, akhirnya terputuskan: untuk Alif yang kepalanya sudah diisi perkara serius, dia layak mendapatkan puisi yang tidak muluk-muluk dari Naya. Selain itu, Alif juga suka ke kebun binatang, sama seperti Naya.

Sebagai bonus (dan karena bingung pilih buku yang mana), saya belikan juga kumpulan puisi Sabar Anantaguna yang berjudul Puisi-puisi dari Penjara. Alif suatu hari pernah memamerkan puisi Antaguna berjudul Potret Seorang Komunis yang bunyinya kira-kira begini:
Adakah duka lebih duka yang kita punya, kawan meninggal dan darahnya kental di pipi, ... , tapi hasrat dan kerja berkejaran dalam waktu.
Semoga dua buku tadi bisa meredakan duka apapun yang sedang memenuhi kepalanya hari ini. 

Terakhir, Olenka karangan Budi Dharma untuk Rijen.
Rijen itu bekerja di salah satu toko buku yang belakangan jadi langganan dan referensi buku saya. Dia juga pengamat dan penulis cerpen yang baik. Sebelum memutuskan untuk beli enam buku lainnya, saya kerap meminta pendapat Rijen karena dia jauh lebih tahu soal sastra. Alhasil, memberi buku untuk Rijen jadi sulit karena dia pasti sudah membaca semua buku yang terjual di tokonya, dan semua buku yang ingin saya beli ada di toko tersebut.
Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, sempat tercetus ide membelikan Semua untuk Hindia karena Rijen kerap menanyakan soal buku itu, tapi saya ragu mendapatkan buku itu tepat waktu mengingat proses PoD yang seringkali berlarut-larut. Akhirnya saya ingat nama penulis Budi Dharma yang beberapa karyanya sudah tidak diterbitkan lagi, padahal cukup fenomenal di masanya. Tercetuslah ide mencari buku lawas berjudul Olenka –novel pertama yang melejitkan nama Budi Dharma di tahun 1980an. Di antara buku lainnya, Olenka adalah yang paling sulit dicari. Saya musti memesannya dari toko online di Padang dan baru datang seminggu setelahnya. Saya mendapatkan cetakan kedua tahun 1986, meski sudah kecoklatan tapi kondisinya masih bagus. Buku ini berkisah tentang Fanton yang tergila-gila pada Olenka, seniman yang hidupnya misterius, yang Fanton anggap seperti peta: bisa ia telusuri tiap bagiannya di atas meja atau dengan menggantungnya di dinding. Memang ciri khas Budi Darma yang selalu menarasikan persetubuhan dan cairan lainnya dengan metafor untuk meninggalkan kesan sopan dan bebas sensor (ini berkebalikan dengan karakter cerpen garapan Rijen). Tapi bukan ini saja yang menarik dari tulisan Budi Darma. Saya lebih suka caranya menarasikan kota yang begitu detail sampai saya bisa merasakan suasana taman, apartemen dan jalan-jalan di Bloomington yang masih sepi.
Oh ya, waktu pertama kali mencari ulasan Olenka di Goodread, kalimat pertama resensi itu mengingatkan saya pada Rijen dan  sekumpulan cerita-pendeknya. Jadi saya putuskan, buku ini cocok untuk Rijen. Semoga cara Budi Darma yang telaten membangun narasi bisa jadi rujukan untuk tulisan Rijen yang lainnya. Oh ya, tulisan-tulisan Rijen bisa dilihat di 11shortstories.wordpress.com . Kabarnya ia sedang tertarik menulis cerita anak-anak -mungkin tentang bebek yang tidak mau bermigrasi. 

Jadi demikian tulisan kedua mengenai buku dan manusia-manusia yang ada di baliknya. Akhirnya buku-buku itu berpindah tangan juga. Semoga berguna.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ibu Suharti*

Saya bertemu beliau di sebuah latihan teater. Masih ingat waktu itu ia berperan sebagai Pak Rebo, penjaga makam Kyai Bakal, yang rumahnya dekat pabrik. Dari awal karakter Pak Rebo sudah merasuk di diri Bu Har, begitu saya memanggilnya. Mungkin karena Pak Rebo dan Bu Har punya kesamaan: tampangnya selalu menunjukkan ketidakpedulian. Padahal, ia yang paling hafal dan mengerti karakter teman-temannya. Sikap diam Bu Har semata-mata adalah caranya meredakan ribut yang tidak perlu.  Selama empat bulan saya menemani para ibu berlatih teater, Bu Har tidak pernah ikut berdebat soal jam berapa para ibu musti dijemput, rumah siapa yang ketempatan arisan berikutnya, atau siapa yang musti menggantikan peran Bu Yati. Tapi selama empat bulan itu, Bu Har juga yang membisikkan pada saya watak masing-masing ibu. Bu Har yang meminta saya maklum tiap kali Bu Partini bicara panjang lebar. Beliau juga yang mengingatkan Mbah Warti kalau hari itu beliau sudah menanyakan nama saya untuk ketiga kaliny...

Akhir Pekan

Akhir pekan dan kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Kau tidak punya seseorang yang bisa dikunjungi di kota asing ini. Sementara jalan-jalan yang kau ingat sudah terlalu sesak untuk ditaruh kenangan. Kemarin pagi kau berharap hari ini datang lebih cepat. Tapi sampai siang kau masih menatap tembok yang itu juga. Nyaris tak sadar, kau membiarkan harimu habis tanpa membuat janji pada siapapun. Di antara sepi yang makin lama makin mengeras, kau temui masa lalu sering datang tiba-tiba. Kau pungut lagi buku itu. Pemberian dari teman-temanmu selepas kuliah. Kau ingat nasihat salah satu dari mereka: bahwa rindu hanya milik orang-orang manja. Sementara kota tak punya cukup waktu untuk mendengarkan nostalgia. Akhir pekan dan kau masih menunggu kapan bisa memesan kereta untuk pulang. *sebuah tulisan yang diilhami dari puisi Aan Mansyur di bukunya Sebelum Sendiri . 

10 Juni 2019

Belakangan perasaan cemas dan khawatir yang tidak perlu kembali lagi saya alami. Sejak pindah ke Jakarta, kecemasan berlebih memang jadi persoalan utama saya. Tapi di akhir 2018, semuanya mulai membaik. Tahun 2019 menjadi tahun yang cukup labil apalagi ada banyak capaian yang akhirnya kesampaian di akhir tahun. Baru bulan Mei kemarin, kebiasaan meringkuk di lantai dingin kamar mandi dengan lampu yang seluruhnya padam mulai lagi. Saya tidak tahu secara tepat pemicunya apa, tapi yang saya rasakan selama PSBB ini sisi introvert saya seperti makin mendominasi. Saya males ketemu orang, takut membuka whatsapp, dan selalu berdebar tiap ada dering telepon. Waktu saya menulis ini pun, background data Whatsapp sengaja saya matikan biar pesan bisa masuk hanya jika saya membuka Whatsapp. Saya sedang dalam ketakutan menyambut hari Jumat dimana saya harus masuk kantor dan bertemu rekan, atasan, pimpinan. Sariwan mulai muncul, asam lambung mulai naik dan konsentrasi mulai buyar. Kalau sudah begini ...