Lebaran
kali ini kau tidak pulang lagi. Setelah menghitung besarnya pengeluaran dan
menipisnya tabungan, akhirnya kau menyerah. Proyek kereta cepat tempatmu
bekerja berhenti sementara. Katanya Presiden sedang mengevaluasi semua proyek pembangunan
akibat kecelakaan kerja tempo hari. Galian rekanmu menghantam pipa gas dan
menyebabkan kebocoran. Untung bukan kau yang sedang bertugas malam itu. Tapi
tetap saja, kau tidak dibayar sebulan ini, padahal kau masih butuh makan tiap
hari.
Semalam
ketika Jakarta sedang panas, kau keluar menghisap rokok di teras. Ada penghuni
kontrakan yang sudah lebih dulu tiduran disitu. Nampaknya ia sama terganggunya
dengan panas dan bunyi kipas angin yang karatan. Wajahnya lebih tua darimu,
mungkin sudah beranak tiga. Entahlah istrinya berapa. Kau pernah melihatnya
memakai helm proyek yang sama denganmu, hanya beda warna. Bisa
jadi
ia buruh bangunan juga.
"Panas
ya mas?" tanya nya. Hanya dari sekalimat itu, kau tahu dia dari Jawa. "Iya,"
jawabmu pendek. Kau sedang malas mengobrol. Kau lebih suka memandangi bulan
itu, yang bentuknya menyerupai mangkuk mi ayam kesukaan mantan pacarmu. Tapi kau
tak sedang ingin memikirkannya malam ini. Bulan yang separuh itu mengingatkanmu
pada hal yang lain: puasa yang tinggal dua pekan lagi. Puasa selalu jadi
bulan yang menyenangkan pikirmu. Banyak orang mendadak budiman, masing-masing berebut
pahala dengan menyumbang ini dan itu.
Sejak proyek dihentikan kemarin, kau
hanya makan satu kali sehari. Kalau bulan puasa, harusnya kau bisa makan dua kali dengan
lauk daging atau minimal telur -tergantung masjid mana yang donaturnya lebih
banyak, belum lagi jatah takjil es kopyor yang sering sisa karena jumlahnya
selalu melebihi jemaat. Kau hanya perlu ke masjid, pura-pura zikir atau ikut
sholat tarawih.
Seandainya
bulan puasa ini kau pulang, pasti takjilnya beda. Bukan es kopyor melainkan
jenang kolak. Jenang kolak buatan ibumu memang yang paling nikmat. Ibumu tahu
betul pisang kepok yang cukup matang tapi tidak terlalu empuk untuk dijadikan kolak.
Ah, tapi ibu meninggal lebaran tahun lalu. Dokter bilang itu
penyakit tua. Tetangga bilang ibu sakit memikirkanmu yang tak kunjung pulang.
Sekarang apa lagi pentingnya pulang. Saudara kau tak punya. Rumah sudah dijual
sejak uang pensiun almarhum bapakmu habis. Sebelum meninggal, ibumu tinggal di
kontrakan milik tetangga yang bersimpati.
Di
tengah lamunanmu, temanmu sesama pengguna helm proyek itu tiba-tiba
bertanya. Sementara kau hampir lupa ada orang lain di teras itu.
"Lebaran
nanti pulang, mas? Saya lagi berburu tiket kereta lho ini,”
tanyanya sambil mengutak-atik handphone yang layarnya harus ditekan –bukan
disentuh.
"Tidak.
Mas pulang?" tanyamu tanpa penasaran, lebih karena basa-basi.
"Jelas
pulang,
Mas. Kali ini benar-benar pulang"
"Maksudnya?"
"Tahun
lalu saya pulang, tapi ke kampung istri. Itu namanya bukan pulang"
"Kenapa
begitu?"
"Iya
karena itu bukan kampung saya. Itu bukan tempat saya lahir, bukan tempat saya
membangun rumah. Saya tidak suka masakan dan lidah mereka yang suka pedas.
Saya
tidak mengenal jalannya, kelokannya, udaranya. Sementara di tempat saya lahir,
gang tikus pun saya paham betul. Saya sampai tahu warung remang mana yang jual
cuprit*, Mas,"
panjang lebar dia menjelaskan dengan diakhiri tawa yang sama sekali tidak lucu.
"Oh, haha" tertawamu tidak ikhlas, lebih seperti mengeja. Pikirmu orang itu bajingan betul mengganggu malam minggumu yang tadinya sendu. Itu mengapa sepatah "oh" pantas untuk menyumpal mulutnya. Tapi kau salah, selain mulut yang suka bercerita, dia ternyata pendengar yang baik.
"Oh, haha" tertawamu tidak ikhlas, lebih seperti mengeja. Pikirmu orang itu bajingan betul mengganggu malam minggumu yang tadinya sendu. Itu mengapa sepatah "oh" pantas untuk menyumpal mulutnya. Tapi kau salah, selain mulut yang suka bercerita, dia ternyata pendengar yang baik.
"Mas
sendiri dimana kampungnya?" tanyanya ingin tahu.
"Hem, tidak
tahu," jawabmu.
"Kok
tidak tahu? Semua orang kan punya kampung halaman Mas. Paling tidak di KTP itu
pasti ada tulisan nya alamat asal to."
Kau
mulai jengkel. Kalau kau jawab lagi dengan tidak tahu, pasti dia akan
kembali bertanya. Akhirnya kau jawab juga pertanyaannya dengan panjang lebar,
dengan harapan dia kehabisan bahan obrolan setelahnya.
"Sudah
sepuluh tahun saya tidak pulang. Gaji saya selalu habis dipotong hutang-hutang saya
yang dulu. Saya sudah lupa jalan besar di kampung saya, apalagi gang sempitnya.
Rumah saya yang dulu dijual, terakhir ibu saya tinggal di sebuah kontrakan.
Baru saja meninggal. Saudara saya tidak punya." Kau
puas dengan jawabanmu sendiri. Lihat saja, setelah ini dia pasti tidak punya
pertanyaan lain.
"Aih,
kasian juga ya mas," jawabnya singkat. Nah! Pasti dia sedang bingung harus
merespon apa. Kau sedikit lega bisa membuatnya diam, tapi kasihan juga.
Wajahnya menampakkan rasa bersalah karena tanpa sengaja mengungkit hidupmu yang
malang. Aih kenapa pula kau harus merasa bersalah karena membuat orang lain
merasa bersalah? Kau masih diam. Dia sibuk menyulut api rokok yang entah kenapa
selalu gagal. Akhirnya kau kasihan juga melihat orang itu bingung sendiri.
"Menurut
Mas apa saya bisa menjadikan kota ini rumah?" tanyamu
akhirnya. Dahinya
sedikit mengernyit, tapi sebelum ia sempat bicara kau sudah melanjutkan
kalimatmu, tanpa memberinya kesempatan untuk bicara lagi panjang
lebar.
"Saya yang membangun jalan di kota ini, saya tahu berapa dalam pondasinya,
saya juga tahu bagian mana yang semennya kurang menempel dengan baik. Saya
bahkan tau jembatan yang katanya termegah itu bisa jadi hancur dalam 10 tahun
karena mandor proyek mengurangi komposisi materialnya. Bisakah saya
menjadikannya rumah kalau begitu?" Orang itu bingung,entah karena
mendengar kata jembatan roboh atau karena tidak menyangka orang di sebelahnya
ini juga banyak bicara.
"Bisa
jadi, mas" jawabnya manggut-manggut. Bukan karena menyetujui, tapi karena
tidak tahu mau bilang apa lagi.
"Tapi
saya
tidak suka es kopyor di kota ini. Saya lebih suka jenang kolak
buatan ibu saya di kampung," katamu lebih pada dirimu sendiri.
Orang tadi nampaknya tak menyimak jawabanmu lagi. Ia
masih berusaha menyulut rokok yang daritadi belum mengepul. Setelah akhirnya
rokok itu terbakar, dia bertanya, "Jadi Mas tetap akan pulang lebaran nanti?"
"Saya pikir saya sudah pulang sekarang."
*cuprit, kependekan dari ciu sprit, miras oplosan yang
mencampurkan ciu bekonang dengan minuman bersoda, banyak beredar di Solo. Kadang
dicampur dengan obat sakit kepala untuk memunculkan efek mabuk yang lebih
mantap.
Halo ndshhhh this is a really nice storyyy
BalasHapus