Buku pertama yang saya beli di Jakarta adalah Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Bukan buku yang tepat bagi seseorang yang baru saja meninggalkan segala tetek bengek soal mahasiswa, kampus dan Jogja. Mengapa? Perkaranya cuma satu, buku ini dengan caranya yang entah bagaimana, menyeret orang-orang seperti saya kembali pada perasaan sedih, bersalah, dan juga rindu barangkali pada tiga hal yang saya sebutkan di awal.
Buku yang saya selesaikan kurang dari tiga hari ini kurang lebih bercerita tentang seorang aktivis mahasiswa bernama Biru Laut yang dibuang ke laut. Kalau novel sebelumnya (‘Pulang’) mengambil setting sekitaran tahun 1965, Laut Bercerita ada di periode berikutnya yaitu 1998 dan seputarannya.
Sejak awal halaman pertama, Leila sudah membongkar isi cerita dengan mengisahkan kematian Laut –yang nantinya menjadi penutur cerita sekaligus tokoh utama. Cara pembuka yang demikian menunjukkan niatan Leila untuk tidak membuat pembaca penasaran dengan ujung petualangan Laut: apakah berakhiir sedih atau bahagia. Leila -mungkin- lebih ingin membuat pembaca bertanya bagaimana hidup seorang Laut dan mengapa hidupnya musti dihilangkan. Sebuah prolog yang menjanjikan untuk cerita kekerasan di masa lalu. Saya pikir saya akan menemui novel yang tidak melulu bicara tentang kekerasan dan kematian melainkan soal manusia dan hidup yang dihidupinya.
Tapi nampaknya, ekspektasi saya agak berlebihan setelah membaca Bab I (secara keseluruhan ada 3 bab yaitu: Prolog, Bab I dan Bab II). Di akhir prolog muncul nama-nama seperti Asmara, Anjani, Alex, Daniel, Kinan berkelebat seperti film hitam putih yang dipercepat. Dengan sengaja Leila tidak menaruh penjelasan atas nama-nama di atas. Mungkin untuk membuat pembaca bertanya siapakah mereka dan apa yang telah terjadi. Baru kemudian di bab selanjutnya Leila mengurainya satu per satu. Ia kembali ke tahun 1991 dimana Laut bertemu Kinan pertama kali –orang yang membuatnya terserap dalam aktivisme dan pengalaman mendebarkan lainnya. Kemudian perkenalannya dengan Anjani, Sunu dan teman-temannya, serta Gala Pranaya yang nanti menjadi patokan moral seorang Laut. Bab-bab berikutnya kemudian disusun secara acak, bolak-balik antara tahun 1991 ke 1998 lalu loncat ke 1993 dan kembali lagi ke 1998, di bawah laut.
Tahun-tahun 1993-1998 banyak menceritakan tentang pelarian Laut dan teman-teman yang diincar polisi setelah aksinya di beberapa tempat. Mereka berpindah-pindah dari Yogyakarta ke Sumatera lalu tertangkap di Jakarta. Selain bicara tentang perencanaan aksi dan dugaan pengkhianatan dalam tubuh organisasi, Bab I banyak bercerita tentang kekerasan dan kekhawatiran yang dialami Laut dari pertama kali ia ditangkap - dibebaskan - ditangkap lagi - lalu dibuang ke laut.
Perlu diakui, saya sempat jengkel di akhir bagian ini ketika Leila melulu bercerita tentang kekerasan, dan bagaimana penyiksaan itu diulang terus-menerus. Untuk sebuah proyek sejarah, tentu fakta tentang kekerasan perlu direpetisi agar pembaca awam mengerti. Tapi, untuk saya yang pernah mengenal penyintas ’65, merepetisi kekerasan justru terkesan mengeksploitasi trauma. Untung cerita Leila tidak berhenti disitu. Di Bagian Kedua dimana perspektif cerita berubah menjadi sudut pandang Asmara –adik Laut, Leila mulai bercerita mengenai mereka yang bertahan. Bagaimana untuk terus melanjutkan hidup bagi mereka yang selamat atau mereka yang ditinggalkan tidak kalah beratnya. Bagaimana mereka terus menghidupi masa lalu hingga melupakan hidup mereka hari ini. Bab inilah yang membuat novel ini menjadi harus dibaca. Bahwa mengungkit pelanggaran HAM masa lalu bukanlah pekerjaan yang sia-sia dan tidak perlu. Bahwa ini bukan soal membuka luka lama, tapi menunjukkan jalan bagi mereka yang masih mencari: entah manusia atau kemanusiaan itu sendiri. Dengan mengambil perspektif Asmara, menurut saya Leila berhasil memberi angin segar untuk roman-roman kekerasan masa lalu. Bahwa ternyata kekerasan yang kita sudah berakhir masih juga berlangsung hari ini; bahwa kehilangan itu terus menumpuk tiap harinya, sementara kebanyakan orang merasa tidak perlu mencari.
Sejak awal halaman pertama, Leila sudah membongkar isi cerita dengan mengisahkan kematian Laut –yang nantinya menjadi penutur cerita sekaligus tokoh utama. Cara pembuka yang demikian menunjukkan niatan Leila untuk tidak membuat pembaca penasaran dengan ujung petualangan Laut: apakah berakhiir sedih atau bahagia. Leila -mungkin- lebih ingin membuat pembaca bertanya bagaimana hidup seorang Laut dan mengapa hidupnya musti dihilangkan. Sebuah prolog yang menjanjikan untuk cerita kekerasan di masa lalu. Saya pikir saya akan menemui novel yang tidak melulu bicara tentang kekerasan dan kematian melainkan soal manusia dan hidup yang dihidupinya.
Tapi nampaknya, ekspektasi saya agak berlebihan setelah membaca Bab I (secara keseluruhan ada 3 bab yaitu: Prolog, Bab I dan Bab II). Di akhir prolog muncul nama-nama seperti Asmara, Anjani, Alex, Daniel, Kinan berkelebat seperti film hitam putih yang dipercepat. Dengan sengaja Leila tidak menaruh penjelasan atas nama-nama di atas. Mungkin untuk membuat pembaca bertanya siapakah mereka dan apa yang telah terjadi. Baru kemudian di bab selanjutnya Leila mengurainya satu per satu. Ia kembali ke tahun 1991 dimana Laut bertemu Kinan pertama kali –orang yang membuatnya terserap dalam aktivisme dan pengalaman mendebarkan lainnya. Kemudian perkenalannya dengan Anjani, Sunu dan teman-temannya, serta Gala Pranaya yang nanti menjadi patokan moral seorang Laut. Bab-bab berikutnya kemudian disusun secara acak, bolak-balik antara tahun 1991 ke 1998 lalu loncat ke 1993 dan kembali lagi ke 1998, di bawah laut.
Tahun-tahun 1993-1998 banyak menceritakan tentang pelarian Laut dan teman-teman yang diincar polisi setelah aksinya di beberapa tempat. Mereka berpindah-pindah dari Yogyakarta ke Sumatera lalu tertangkap di Jakarta. Selain bicara tentang perencanaan aksi dan dugaan pengkhianatan dalam tubuh organisasi, Bab I banyak bercerita tentang kekerasan dan kekhawatiran yang dialami Laut dari pertama kali ia ditangkap - dibebaskan - ditangkap lagi - lalu dibuang ke laut.
Perlu diakui, saya sempat jengkel di akhir bagian ini ketika Leila melulu bercerita tentang kekerasan, dan bagaimana penyiksaan itu diulang terus-menerus. Untuk sebuah proyek sejarah, tentu fakta tentang kekerasan perlu direpetisi agar pembaca awam mengerti. Tapi, untuk saya yang pernah mengenal penyintas ’65, merepetisi kekerasan justru terkesan mengeksploitasi trauma. Untung cerita Leila tidak berhenti disitu. Di Bagian Kedua dimana perspektif cerita berubah menjadi sudut pandang Asmara –adik Laut, Leila mulai bercerita mengenai mereka yang bertahan. Bagaimana untuk terus melanjutkan hidup bagi mereka yang selamat atau mereka yang ditinggalkan tidak kalah beratnya. Bagaimana mereka terus menghidupi masa lalu hingga melupakan hidup mereka hari ini. Bab inilah yang membuat novel ini menjadi harus dibaca. Bahwa mengungkit pelanggaran HAM masa lalu bukanlah pekerjaan yang sia-sia dan tidak perlu. Bahwa ini bukan soal membuka luka lama, tapi menunjukkan jalan bagi mereka yang masih mencari: entah manusia atau kemanusiaan itu sendiri. Dengan mengambil perspektif Asmara, menurut saya Leila berhasil memberi angin segar untuk roman-roman kekerasan masa lalu. Bahwa ternyata kekerasan yang kita sudah berakhir masih juga berlangsung hari ini; bahwa kehilangan itu terus menumpuk tiap harinya, sementara kebanyakan orang merasa tidak perlu mencari.
Terkecuali plot nya yang maju-mundur dan pengambilan cerita dari dua perspektif berbeda -yang membuat novel ini tidak membosankan, sesungguhnya novel Leila memiliki alur cerita yang biasa. Untuk orang-orang yang sudah akrab dengan peristiwa 1998, hampir tidak ada hal baru yang disuguhkan dalam novel. Pun bagi orang-orang yang baru mengerti peristiwa itu, Laut Bercerita tidak pernah benar-benar bicara tentang konteks politik di masa itu, apa dan bagaimana ide, ideologi berkontestasi. Novel ini lebih banyak berisi luapan semangat, gelora bercampur rasa kecewa, takut dan kehilangan dari tokoh-tokoh yang ada di dalamnya –yang sedikit banyak mengingatkan saya pada gaya cerita Yosep Anggi Noen di film Istirahatlah Kata-kata. Leila tidak pernah benar-benar mengulik apa yang dipikirkan Kinan, Laut atau Gala Pranaya tentang sebuah negara yang ideal. tapi ia mengulik apa yang dipikirkan 'aktivis' dan orang-orang terdekatnya mengenai kehilangan dan ketidakpastian akan hidup besok pagi. Tidak seperti kebanyakan aktivis yang sering memakai kata ‘revolusi’, ‘reformasi’, ‘pergerakan’, atau ‘penumbangan rezim’, Leila lewat tokoh Asmara justru melihat kata-kata itu terlalu besar. Itu mengapa Asmara selalu menggunakan kata ‘perjuangan’ dan ‘negara’ dengan tanda petik –untuk menunjukkan betapa anehnya kata itu diucapkan oleh seorang manusia yang sebenarnya biasa-biasa saja. Leila, menurut saya, tidak berniat menyajikan plot yang kuat. Ia lebih fokus pada dialog dan monolog tiap tokohnya. Barangkali, memang begitulah hakikat novel ini sejak awal.
Saya sama sekali tidak ingin menilai bahwa alur cerita yang demikian menjadikan novel ini buruk. Namun, jika anda pembaca yang berharap menemukan banyak pengetahuan sejarah dari novel ini: saya sarankan untuk buang jauh-jauh harapan itu. Novel ini lebih ditujukan untuk sebuah momen reflektif, saya pikir. Salah satu momen reflektif yang sempat membuat saya berkaca-kaca di akhir halaman adalah saat Laut menuturkan kematiannya sendiri. Kematian Laut sama sekali tidak digambarkan dengan mengerikan –justru indah. Bagaimana Laut mendengar cericit burung dan melihat ikan dara mengerubungi tubuhnya yang telah menjadi mayat.
“Aku selalu menyangka, pada saat kematian tiba, akan ada gempa atau gunung meletus dan daun-daun gugur. ... Ternyata kematianku tak lebih seperti saat seorang penyair menuliskan tanda titik pada akhir kalimat sajaknya. Hening. Begitu sunyi. Begitu sepi. Aku tak relevan lagi.”
Saya suka bagian ini terlebih karena kematian seorang aktivis tidak melulu digambarkan secara heroik. Kematian Laut menggambarkan kesepian, kekosongan, raga yang tiba-tiba menjadi tidak berarti. Bagian ini menurut saya, menunjukkan ruh keseluruhan novel yang ingin memanusiakan kembali orang-orang yang pernah hilang di masa itu. Bahwa setiap manusia yang mati sesungguhnya ingin diingat, dicari, dan diketahui: bukan hanya soal dimana dan bagaimana ia mati tapi juga menyangkut bagaimana ia hidup dan menghidupi. Dan kenyataan bahwa negara ini melupakan orang-orang yang pernah mati dan/atau dibuat mati membuat novel ini begitu tragis pun menyayat.
Jika ingin membaca:
Leila S. Chudori. Laut Bercerita. (2017). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
*Ah iya, kenapa saya menyebut novel ini terasa begitu melekat untuk orang-orang yang baru meninggalkan Jogja, mungkin karena sepertiga novel mengambil setting di Sayegan, UGM dan tempat-tempat lain yang pasti dikenali oleh mereka yang pernah tinggal di kota ini. Hanya saja untuk orang-orang yang belum pernah ke kota-kota yang disebut Leila dalam cerita, cara Leila menggambarkan ruang tempat cerita dibangun kurang detail. Sehingga, Jogja, Ciputat, Surabaya, Sumatera nampak sama saja. Disini, kelekatan antara tokoh dan ruang jadi kurang mengena. Agak sayang, karena konteks perpindahan ruang jadi kurang kentara bagi seorang pelarian seperti Laut.
*Ah iya, kenapa saya menyebut novel ini terasa begitu melekat untuk orang-orang yang baru meninggalkan Jogja, mungkin karena sepertiga novel mengambil setting di Sayegan, UGM dan tempat-tempat lain yang pasti dikenali oleh mereka yang pernah tinggal di kota ini. Hanya saja untuk orang-orang yang belum pernah ke kota-kota yang disebut Leila dalam cerita, cara Leila menggambarkan ruang tempat cerita dibangun kurang detail. Sehingga, Jogja, Ciputat, Surabaya, Sumatera nampak sama saja. Disini, kelekatan antara tokoh dan ruang jadi kurang mengena. Agak sayang, karena konteks perpindahan ruang jadi kurang kentara bagi seorang pelarian seperti Laut.
Komentar
Posting Komentar