Langsung ke konten utama

Postingan

Akhir Pekan

Akhir pekan dan kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Kau tidak punya seseorang yang bisa dikunjungi di kota asing ini. Sementara jalan-jalan yang kau ingat sudah terlalu sesak untuk ditaruh kenangan. Kemarin pagi kau berharap hari ini datang lebih cepat. Tapi sampai siang kau masih menatap tembok yang itu juga. Nyaris tak sadar, kau membiarkan harimu habis tanpa membuat janji pada siapapun. Di antara sepi yang makin lama makin mengeras, kau temui masa lalu sering datang tiba-tiba. Kau pungut lagi buku itu. Pemberian dari teman-temanmu selepas kuliah. Kau ingat nasihat salah satu dari mereka: bahwa rindu hanya milik orang-orang manja. Sementara kota tak punya cukup waktu untuk mendengarkan nostalgia. Akhir pekan dan kau masih menunggu kapan bisa memesan kereta untuk pulang. *sebuah tulisan yang diilhami dari puisi Aan Mansyur di bukunya Sebelum Sendiri . 

Sedikit Cerita Soal Laut yang Bercerita

Buku pertama yang saya beli di Jakarta adalah Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Bukan buku yang tepat bagi seseorang yang baru saja meninggalkan segala tetek bengek soal mahasiswa, kampus dan Jogja. Mengapa? Perkaranya cuma satu, buku ini dengan caranya yang entah bagaimana, menyeret orang-orang seperti saya kembali pada perasaan sedih, bersalah, dan juga rindu barangkali pada tiga hal yang saya sebutkan di awal. Buku yang saya selesaikan kurang dari tiga hari ini kurang lebih bercerita tentang seorang aktivis mahasiswa bernama Biru Laut yang dibuang ke laut. Kalau novel sebelumnya (‘Pulang’) mengambil setting sekitaran tahun 1965, Laut Bercerita ada di periode berikutnya yaitu 1998 dan seputarannya. Sejak awal halaman pertama, Leila sudah membongkar isi cerita dengan mengisahkan kematian Laut –yang nantinya menjadi penutur cerita sekaligus tokoh utama. Cara pembuka yang demikian menunjukkan niatan Leila untuk tidak membuat pembaca penasaran dengan ujung petualangan La...

Buku untuk Penikmat Burjo Palm Kuning

Belakangan saya suka sekali mencari buku untuk kemudian diberikan pada orang lain. Memberi buku sebagai bingkisan, entah dalam rangka apa, adalah kegiatan yang menyenangkan yang mungkin sekali menjadi hobi baru saya ke depan. Tidak seperti membelikan bunga, kue, baju, mainan atau cinta –kalau ada, buku adalah bingkisan yang tidak akan berkurang nilainya. Entah dibaca hari ini atau lusa atau bertahun-tahun ke depan, buku akan selalu punya maknanya yang kekal –yang mungkin justru bertambah seiring makin banyak memori yang melekat pada sebuah buku. Sewaktu saya memberi buku, saya selalu memberikan yang sudah pernah saya baca. Ini bukan karena saya pelit –sama sekali tidak, melainkan karena dua alasan dasar: Pertama, membagi buku yang sudah pernah saya baca justru lebih romantis ketimbang memberi buku yang sama sekali baru dan masih berbungkus plastik. Coba kita bayangkan demikian: jika kita mengartikan membagi buku sama dengan memberi sebagian dari diri kita untuk orang lain, membagi...

Ibu Suharti*

Saya bertemu beliau di sebuah latihan teater. Masih ingat waktu itu ia berperan sebagai Pak Rebo, penjaga makam Kyai Bakal, yang rumahnya dekat pabrik. Dari awal karakter Pak Rebo sudah merasuk di diri Bu Har, begitu saya memanggilnya. Mungkin karena Pak Rebo dan Bu Har punya kesamaan: tampangnya selalu menunjukkan ketidakpedulian. Padahal, ia yang paling hafal dan mengerti karakter teman-temannya. Sikap diam Bu Har semata-mata adalah caranya meredakan ribut yang tidak perlu.  Selama empat bulan saya menemani para ibu berlatih teater, Bu Har tidak pernah ikut berdebat soal jam berapa para ibu musti dijemput, rumah siapa yang ketempatan arisan berikutnya, atau siapa yang musti menggantikan peran Bu Yati. Tapi selama empat bulan itu, Bu Har juga yang membisikkan pada saya watak masing-masing ibu. Bu Har yang meminta saya maklum tiap kali Bu Partini bicara panjang lebar. Beliau juga yang mengingatkan Mbah Warti kalau hari itu beliau sudah menanyakan nama saya untuk ketiga kaliny...

Prolog

Semua bermula dari malam minggu yang sepi. Dan sebagaimana anak muda kebanyakan, hujan dan sepi selalu mencitpakan kombinasi yang padu untuk menulis. Malam minggu itu berjarak sebulan sebelum saya harus pergi meninggalkan Jogja. Saya sedang beres-beres kamar waktu itu: menyicil proses pindahan kos yang mungkin butuh beberapa hari. Saya mengamati buku-buku yang terpajang di rak berniat untuk mengemasnya dalam kardus. Dari semua buku itu, sebagian saya beli sendiri setelah mendengar cerita dari teman-teman. Sebagian lainnya hasil pemberian di hari ulangtahun saya. Sebagian lagi buku-buku pinjaman yang tidak rela saya kembalikan. Saya lalu mengambil salah satu: buku tulisan Budi Darma berjudul Orang-orang Bloomington, kado ulangtahun saya yang kedua-puluh tiga. Di dalamnya tertulis coretan teman-teman saya berisi pesan yang sama sekali tidak menghibur. Nasihat untuk move on misalnya. Lalu saya buka buku yang lain: George Orwell 1984, saya beli waktu orang-orang di sekitar saya sibuk mem...

Tempat

Tempat yang pernah menampung kita bertahun-tahun lalu: mereka lupa diri. Aku bertanya pada kedai makan di persimpangan jalan, apa menu favorit kita. Kursi-kursi menjawab: "Aku tak pernah mengenali suaramu sebelumnya." Aku bertanya pada sudut sebuah altar, kapan terakhir kita merapal doa. Patung-patung menjawab: "Ini bukan gerejamu" Aku bertanya pada sudut perpustakaan, pernahkan ia mencuri dengar pembicaraan kita soal keluh dan kesah. Debu menjawab: "Sudah lama kau tak berbincang dengan siapapun." Aku pulang dan bertanya pada rumah, apakah ia mengenalimu dan suara kakimu yang sering berkunjung tiap akhir pekan. Tiang-tiang teras menjawab: "Bangunlah Nak, kau sedang bermimpi".

Museum

Ini hari minggu dan saya berkunjung ke museum. Untuk menengok piringan hitam, bingkai, kursi, jendela, artefak dan barang-barang tempat ingatan saya pernah ditaruh. Cukup sekali seminggu agar saya bisa bilang: "Aku tidak punya apa-apa hari ini, selain sepi". Di sisa hari yang lain saya bercakap dengan temuan baru yang sama sekali asing dan menakutkan. Supaya saya bisa bilang: "Tidak ada yang aku punya, selain hari ini". Sepulang dari museum, saya gemar memungut masa lalu dan menyimpannya dalam toples berlubang tiga agar ia bisa hidup dan bernafas. Tapi orang-orang bilang: "Kau akan mati kalau membiarkan arlojimu berdetak mundur."