Langsung ke konten utama

Prolog

Semua bermula dari malam minggu yang sepi. Dan sebagaimana anak muda kebanyakan, hujan dan sepi selalu mencitpakan kombinasi yang padu untuk menulis. Malam minggu itu berjarak sebulan sebelum saya harus pergi meninggalkan Jogja. Saya sedang beres-beres kamar waktu itu: menyicil proses pindahan kos yang mungkin butuh beberapa hari. Saya mengamati buku-buku yang terpajang di rak berniat untuk mengemasnya dalam kardus. Dari semua buku itu, sebagian saya beli sendiri setelah mendengar cerita dari teman-teman. Sebagian lainnya hasil pemberian di hari ulangtahun saya. Sebagian lagi buku-buku pinjaman yang tidak rela saya kembalikan. Saya lalu mengambil salah satu: buku tulisan Budi Darma berjudul Orang-orang Bloomington, kado ulangtahun saya yang kedua-puluh tiga. Di dalamnya tertulis coretan teman-teman saya berisi pesan yang sama sekali tidak menghibur. Nasihat untuk move on misalnya. Lalu saya buka buku yang lain: George Orwell 1984, saya beli waktu orang-orang di sekitar saya sibuk membincangkannya. Saya amati lagi yang lain satu per satu: Le Petit Prince, Lelaki Harimau, Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta, sederetan novel Pram yang sengaja saya taruh berajar, terjemahan buku Albert Camus yang berjudul Sampar, Catatan Pinggir, Dostoyevsky, Ratu Sekop, Telembuk, Amba, Derrida, tulisian-tulisan itu berputar di kepala saya. Buku-buku yang saya taruh tidak begitu rapi di rak kayu yang sudah mau ambruk ini mengingatkan saya pada orang-orang yang membentuk selera baca saya. Ada tiga golongan orang yang langsung saya ingat. Pertama, orang-orang yang secara langsung menganjurkan saya beli buku ini dan itu. Kedua, orang-orang yang tidak pernah menyuruh saya membeli buku tapi ceritanya membuat saya ingin membaca buku ini dan itu. Ketiga, orang-orang yang tidak tergolong keduanya tapi warungnya atau rumahnya atau teras depan rumahnya kerap saya pinjam untuk membaca buku sampai sore. Dan di tengah malam minggu sepi nan sendu ini, saya jadi berpikir untuk mengenang setiap buku dan ketiga golongan orang yang ada di baliknya. Tercetus ide untuk membuat serangkaian tulisan tentang teman, tetangga dan kenalan yang saya jumpai di Jogja, yang mungkin akan jarang (untuk menghindari kata tidak) saya temui lagi setelah saya pindah Jakarta. Sebuah proyek nostalgia yang sedikit melankolis tapi cukup menghibur di tengah desakan untuk merampungkan laporan akhir tahun dan kewajiban-kewajiban lain yang melelahkan. Saya berencana untuk menerbitkan satu cerita tentang satu orang tiap minggunya sebelum saya benar-benar meninggalkan Jogja dan lupa pada mereka yang ikut andil dalam hari-hari saya. Tapi mari kita lihat, seberapa betah saya terhadap proses ini dan seberapa banyak waktu yang saya punya. Juga, ada beberapa teman terdekat yang mungkin malah tidak menjadi bagian dari cerita. Bukan apa-apa, saya cuma takut yang terjadi berikutnya adalah rasa sedih dan enggan pergi ke Jakarta. Biar bagaimanapun saya sudah memutuskan untuk pindah. Tapi sekali lagi, mari kita lihat nanti.
Oh ya, orang-orang yang akan saya tulis tentu akan saya samarkan namanya. Pertama, agar pembaca penasaran dan tergerak untuk menebak. Kedua, ada beberapa cerita yang mungkin rahasia dan penting untuk dijaga privasinya. Ketiga, karena menurut saya ada nama-nama yang tidak cocok dilekatkan dengan karakter orangnya saja. Seperti nama saya: Ganesh, yang lebih cocok diganti dengan Ajeng, Menik atau Genduk misalnya.

Demikian saja pengantar dari saya. Minggu ini saya terbitkan dulu satu tulisan tentang seorang Ibu yang membuat saya ingin membaca lebih banyak roman. Terutama yang berlatar tahun 60an.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ibu Suharti*

Saya bertemu beliau di sebuah latihan teater. Masih ingat waktu itu ia berperan sebagai Pak Rebo, penjaga makam Kyai Bakal, yang rumahnya dekat pabrik. Dari awal karakter Pak Rebo sudah merasuk di diri Bu Har, begitu saya memanggilnya. Mungkin karena Pak Rebo dan Bu Har punya kesamaan: tampangnya selalu menunjukkan ketidakpedulian. Padahal, ia yang paling hafal dan mengerti karakter teman-temannya. Sikap diam Bu Har semata-mata adalah caranya meredakan ribut yang tidak perlu.  Selama empat bulan saya menemani para ibu berlatih teater, Bu Har tidak pernah ikut berdebat soal jam berapa para ibu musti dijemput, rumah siapa yang ketempatan arisan berikutnya, atau siapa yang musti menggantikan peran Bu Yati. Tapi selama empat bulan itu, Bu Har juga yang membisikkan pada saya watak masing-masing ibu. Bu Har yang meminta saya maklum tiap kali Bu Partini bicara panjang lebar. Beliau juga yang mengingatkan Mbah Warti kalau hari itu beliau sudah menanyakan nama saya untuk ketiga kaliny...

Akhir Pekan

Akhir pekan dan kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Kau tidak punya seseorang yang bisa dikunjungi di kota asing ini. Sementara jalan-jalan yang kau ingat sudah terlalu sesak untuk ditaruh kenangan. Kemarin pagi kau berharap hari ini datang lebih cepat. Tapi sampai siang kau masih menatap tembok yang itu juga. Nyaris tak sadar, kau membiarkan harimu habis tanpa membuat janji pada siapapun. Di antara sepi yang makin lama makin mengeras, kau temui masa lalu sering datang tiba-tiba. Kau pungut lagi buku itu. Pemberian dari teman-temanmu selepas kuliah. Kau ingat nasihat salah satu dari mereka: bahwa rindu hanya milik orang-orang manja. Sementara kota tak punya cukup waktu untuk mendengarkan nostalgia. Akhir pekan dan kau masih menunggu kapan bisa memesan kereta untuk pulang. *sebuah tulisan yang diilhami dari puisi Aan Mansyur di bukunya Sebelum Sendiri . 

10 Juni 2019

Belakangan perasaan cemas dan khawatir yang tidak perlu kembali lagi saya alami. Sejak pindah ke Jakarta, kecemasan berlebih memang jadi persoalan utama saya. Tapi di akhir 2018, semuanya mulai membaik. Tahun 2019 menjadi tahun yang cukup labil apalagi ada banyak capaian yang akhirnya kesampaian di akhir tahun. Baru bulan Mei kemarin, kebiasaan meringkuk di lantai dingin kamar mandi dengan lampu yang seluruhnya padam mulai lagi. Saya tidak tahu secara tepat pemicunya apa, tapi yang saya rasakan selama PSBB ini sisi introvert saya seperti makin mendominasi. Saya males ketemu orang, takut membuka whatsapp, dan selalu berdebar tiap ada dering telepon. Waktu saya menulis ini pun, background data Whatsapp sengaja saya matikan biar pesan bisa masuk hanya jika saya membuka Whatsapp. Saya sedang dalam ketakutan menyambut hari Jumat dimana saya harus masuk kantor dan bertemu rekan, atasan, pimpinan. Sariwan mulai muncul, asam lambung mulai naik dan konsentrasi mulai buyar. Kalau sudah begini ...