Di Botswana ratusan tahun lalu, bahkan sebelum Inggris datang memperkenalkan demokrasi, orang-orang -baik pria atau wanita- berkumpul dalam lingkaran yang rapat. Siang itu, di atas tanah kering dan hujan yang terlambat datang mereka bersepakat atas tanaman yang akan mereka tanam. Sungguh, tak ada relasi yang lebih romantis ketimbang satu mangkuk air yang mereka minum bersama di kemarau panjang tahun itu.
Saya bertemu beliau di sebuah latihan teater. Masih ingat waktu itu ia berperan sebagai Pak Rebo, penjaga makam Kyai Bakal, yang rumahnya dekat pabrik. Dari awal karakter Pak Rebo sudah merasuk di diri Bu Har, begitu saya memanggilnya. Mungkin karena Pak Rebo dan Bu Har punya kesamaan: tampangnya selalu menunjukkan ketidakpedulian. Padahal, ia yang paling hafal dan mengerti karakter teman-temannya. Sikap diam Bu Har semata-mata adalah caranya meredakan ribut yang tidak perlu. Selama empat bulan saya menemani para ibu berlatih teater, Bu Har tidak pernah ikut berdebat soal jam berapa para ibu musti dijemput, rumah siapa yang ketempatan arisan berikutnya, atau siapa yang musti menggantikan peran Bu Yati. Tapi selama empat bulan itu, Bu Har juga yang membisikkan pada saya watak masing-masing ibu. Bu Har yang meminta saya maklum tiap kali Bu Partini bicara panjang lebar. Beliau juga yang mengingatkan Mbah Warti kalau hari itu beliau sudah menanyakan nama saya untuk ketiga kaliny...
Komentar
Posting Komentar