Langsung ke konten utama

Postingan

Mesin Ketik

Kita lahir dari sisa anggaran akhir tahun yang menumpuk Waktu orang-orang sudah lelah dan kehabisan cara mengakali target kinerja Lalu aku dicomot dari etalase ditaruh di atas meja pegawai baru dengan seragam hitam-putih Dia senang bukan main Karena aku bisa menghapus kesalahan yang sudah lalu Kata atasannya, aku cocok untuk generasi milenial yang suka buru-buru Lepas jam empat sore, waktu pegawai lainnya sudah pulang Pegawai baru itu membiarkanku tetap siaga Berharap aku bisa menghapus kesalahannya: memilih untuk bekerja di kota

Semenjak PNS

Sejak diangkat menjadi PNS, caraku mencintaimu berbeda Cinta kita mengenal jam kerja, mulai jam empat sore lalu pulang pukul tujuh pagi Di luar jam itu aku tak mau menghubungimu, karena tidak siap membayarkan gaji lembur. Seragam kita berwarna biru.  Dibuat dari sendu yang kujahit tiap pagi menjelang kepulanganmu. Kita menolak mengenakan pangkat dan tanda jabatan, karena cinta mensyaratkan upaya yang setara. Tiap pagi kita harus mengisi jurnal harian. Tahun ini aku pasang target kinerja:  aku harus memelukmu 365 kali dalam satu tahun  dengan tugas tambahan memesan lontong sayur pada minggu pagi. Kalau targetku tercapai, enam tahun lagi aku akan naik pangkat, jadi: Ahli Pacar Madya Sampai akhirnya kuajak kamu menjadi pensiun, saat dimana mencintaimu bisa kulakukan seharian sambil bermalas-malasan. x

mungkin aku

kita pernah menyimpan dongeng soal pangeran kecil dulu waktu dewasa masih begitu menakutkan kita simpan ingatan, rahasia, keresahan lengkap bersama domba dalam kotak berlubang tiga sesekali kau berkunjung dan mengintip, memastikan masih ada udara yang menjaga mereka tetap hidup tapi siapa itu yang diam-diam membuka penutupnya dan membiarkan domba-domba kita lari lengkap bersama ingatan, rahasia dan keresahan

Kota

Aku ingin menghapus rumah dari kepalaku. Tempat tangis bayi mereda di balik puting ibunya. Dimana sesal dan kecewa seperti jangkrik yang sesekali berbunyi di sela rumput basah setelah hujan di pekarangan. Aku ingin menghapus rumah dari kepalaku dan menggantikannya dengan kota yang riuh. Tempat hasrat dan kerja berkejaran seperti gerbong kereta cepat. Dimana malam tak membiarkan manusia lelap, sementara orang-orang manja terseok di ujung jalan sebelum kuburan cina. Aku ingin menaruh kota di kepalaku dan menyematkan cinta di atasnya. Supaya rumah tak bisa pulang dan larut menjadi keringat di kemeja. Tapi adakah kota yang tak menyimpan rindu dalam dini harinya?

ORANG-ORANG PROYEK

Lebaran kali ini kau tidak pulang lagi. Setelah menghitung besarnya pengeluaran dan menipisnya tabungan, akhirnya kau menyerah. Proyek kereta cepat tempatmu bekerja berhenti sementara. Katanya Presiden sedang mengevaluasi semua proyek pembangunan akibat kecelakaan kerja tempo hari. Galian rekanmu menghantam pipa gas dan menyebabkan kebocoran. Untung bukan kau yang sedang bertugas malam itu. Tapi tetap saja, kau tidak dibayar sebulan ini, padahal kau masih butuh makan tiap hari. Semalam ketika Jakarta sedang panas, kau keluar menghisap rokok di teras. Ada penghuni kontrakan yang sudah lebih dulu tiduran disitu. Nampaknya ia sama terganggunya dengan panas dan bunyi kipas angin yang karatan. Wajahnya lebih tua darimu, mungkin sudah beranak tiga. Entahlah istrinya berapa. Kau pernah melihatnya memakai helm proyek yang sama denganmu, hanya beda warna. Bisa jadi ia buruh bangunan juga. "Panas ya mas?" tanya nya. Hanya dari sekalimat itu, kau tahu dia dari Jawa . ...

Akhir Pekan

Akhir pekan dan kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Kau tidak punya seseorang yang bisa dikunjungi di kota asing ini. Sementara jalan-jalan yang kau ingat sudah terlalu sesak untuk ditaruh kenangan. Kemarin pagi kau berharap hari ini datang lebih cepat. Tapi sampai siang kau masih menatap tembok yang itu juga. Nyaris tak sadar, kau membiarkan harimu habis tanpa membuat janji pada siapapun. Di antara sepi yang makin lama makin mengeras, kau temui masa lalu sering datang tiba-tiba. Kau pungut lagi buku itu. Pemberian dari teman-temanmu selepas kuliah. Kau ingat nasihat salah satu dari mereka: bahwa rindu hanya milik orang-orang manja. Sementara kota tak punya cukup waktu untuk mendengarkan nostalgia. Akhir pekan dan kau masih menunggu kapan bisa memesan kereta untuk pulang. *sebuah tulisan yang diilhami dari puisi Aan Mansyur di bukunya Sebelum Sendiri . 

Sedikit Cerita Soal Laut yang Bercerita

Buku pertama yang saya beli di Jakarta adalah Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Bukan buku yang tepat bagi seseorang yang baru saja meninggalkan segala tetek bengek soal mahasiswa, kampus dan Jogja. Mengapa? Perkaranya cuma satu, buku ini dengan caranya yang entah bagaimana, menyeret orang-orang seperti saya kembali pada perasaan sedih, bersalah, dan juga rindu barangkali pada tiga hal yang saya sebutkan di awal. Buku yang saya selesaikan kurang dari tiga hari ini kurang lebih bercerita tentang seorang aktivis mahasiswa bernama Biru Laut yang dibuang ke laut. Kalau novel sebelumnya (‘Pulang’) mengambil setting sekitaran tahun 1965, Laut Bercerita ada di periode berikutnya yaitu 1998 dan seputarannya. Sejak awal halaman pertama, Leila sudah membongkar isi cerita dengan mengisahkan kematian Laut –yang nantinya menjadi penutur cerita sekaligus tokoh utama. Cara pembuka yang demikian menunjukkan niatan Leila untuk tidak membuat pembaca penasaran dengan ujung petualangan La...