Langsung ke konten utama

Postingan

30 September 2020

P agi ini setelah jalan sebentar membeli sarapan, saya duduk ngalamun saja karena disergap sama keterasingan pada diri sendiri. Saya sudah jauh berjalan, delapan tahun meninggalkan rumah, tapi ini di mana, saya ada di tubuh siapa. Saya baca lagi catatan-catatan saya jaman kuliah dan berpikir wah gila ya dulu bisa mikir dan nulis kayak gini. Sekarang kecepatan baca menurun drastis. Kecintaaan saya pada  buku dan tulisan juga lama-lama redup. Kalau dulu pas senggang saya baca buku, sekarang saya lebih sering menonton film atau main games atau menyiram tanaman artifisial yang kalau panen, buahnya koin yang artifisial juga. Ada banyak memori yang saya simpan, saya masukkan toples dan saya tutup rapat-rapat karena tahu saya tidak akan pernah kembali kesitu. Tapi pagi ini, entah karena karat atau karena ini tanggal 30 September, toplesnya terbuka dan memori-memori yang lama balik lagi menyerang saya. Sekali lagi, hari ini, saya gagal menyerang balik. Selama ini saya pikir cara bertahan h...

10 Juni 2019

Belakangan perasaan cemas dan khawatir yang tidak perlu kembali lagi saya alami. Sejak pindah ke Jakarta, kecemasan berlebih memang jadi persoalan utama saya. Tapi di akhir 2018, semuanya mulai membaik. Tahun 2019 menjadi tahun yang cukup labil apalagi ada banyak capaian yang akhirnya kesampaian di akhir tahun. Baru bulan Mei kemarin, kebiasaan meringkuk di lantai dingin kamar mandi dengan lampu yang seluruhnya padam mulai lagi. Saya tidak tahu secara tepat pemicunya apa, tapi yang saya rasakan selama PSBB ini sisi introvert saya seperti makin mendominasi. Saya males ketemu orang, takut membuka whatsapp, dan selalu berdebar tiap ada dering telepon. Waktu saya menulis ini pun, background data Whatsapp sengaja saya matikan biar pesan bisa masuk hanya jika saya membuka Whatsapp. Saya sedang dalam ketakutan menyambut hari Jumat dimana saya harus masuk kantor dan bertemu rekan, atasan, pimpinan. Sariwan mulai muncul, asam lambung mulai naik dan konsentrasi mulai buyar. Kalau sudah begini ...

Tiang Listrik

Ada takut yang menggantung di langit Jakarta Yang merambat lewat kabel listrik di sepanjang Pedurenan Bulan lalu satu tiang listrik roboh karena tak cukup kuat menampung ketakutan warga Petugas lalu menggali trotoar, memindahkan kabel itu ke dalam tanah Rasa takut akhirnya meresap dari kabel ke tanah, lalu air dan pipa kamar mandi Merasuk di tubuhku waktu mandi Menyusup ke tidurku waktu malam

Mesin Ketik

Kita lahir dari sisa anggaran akhir tahun yang menumpuk Waktu orang-orang sudah lelah dan kehabisan cara mengakali target kinerja Lalu aku dicomot dari etalase ditaruh di atas meja pegawai baru dengan seragam hitam-putih Dia senang bukan main Karena aku bisa menghapus kesalahan yang sudah lalu Kata atasannya, aku cocok untuk generasi milenial yang suka buru-buru Lepas jam empat sore, waktu pegawai lainnya sudah pulang Pegawai baru itu membiarkanku tetap siaga Berharap aku bisa menghapus kesalahannya: memilih untuk bekerja di kota

Semenjak PNS

Sejak diangkat menjadi PNS, caraku mencintaimu berbeda Cinta kita mengenal jam kerja, mulai jam empat sore lalu pulang pukul tujuh pagi Di luar jam itu aku tak mau menghubungimu, karena tidak siap membayarkan gaji lembur. Seragam kita berwarna biru.  Dibuat dari sendu yang kujahit tiap pagi menjelang kepulanganmu. Kita menolak mengenakan pangkat dan tanda jabatan, karena cinta mensyaratkan upaya yang setara. Tiap pagi kita harus mengisi jurnal harian. Tahun ini aku pasang target kinerja:  aku harus memelukmu 365 kali dalam satu tahun  dengan tugas tambahan memesan lontong sayur pada minggu pagi. Kalau targetku tercapai, enam tahun lagi aku akan naik pangkat, jadi: Ahli Pacar Madya Sampai akhirnya kuajak kamu menjadi pensiun, saat dimana mencintaimu bisa kulakukan seharian sambil bermalas-malasan. x

mungkin aku

kita pernah menyimpan dongeng soal pangeran kecil dulu waktu dewasa masih begitu menakutkan kita simpan ingatan, rahasia, keresahan lengkap bersama domba dalam kotak berlubang tiga sesekali kau berkunjung dan mengintip, memastikan masih ada udara yang menjaga mereka tetap hidup tapi siapa itu yang diam-diam membuka penutupnya dan membiarkan domba-domba kita lari lengkap bersama ingatan, rahasia dan keresahan

Kota

Aku ingin menghapus rumah dari kepalaku. Tempat tangis bayi mereda di balik puting ibunya. Dimana sesal dan kecewa seperti jangkrik yang sesekali berbunyi di sela rumput basah setelah hujan di pekarangan. Aku ingin menghapus rumah dari kepalaku dan menggantikannya dengan kota yang riuh. Tempat hasrat dan kerja berkejaran seperti gerbong kereta cepat. Dimana malam tak membiarkan manusia lelap, sementara orang-orang manja terseok di ujung jalan sebelum kuburan cina. Aku ingin menaruh kota di kepalaku dan menyematkan cinta di atasnya. Supaya rumah tak bisa pulang dan larut menjadi keringat di kemeja. Tapi adakah kota yang tak menyimpan rindu dalam dini harinya?