Langsung ke konten utama

Postingan

Kgotla

Di Botswana ratusan tahun lalu, bahkan sebelum Inggris datang memperkenalkan demokrasi, orang-orang -baik pria atau wanita- berkumpul dalam lingkaran yang rapat. Siang itu, di atas tanah kering dan hujan yang terlambat datang mereka bersepakat atas tanaman yang akan mereka tanam. Sungguh, tak ada relasi yang lebih romantis ketimbang satu mangkuk air yang mereka minum bersama di kemarau panjang tahun itu.

Kita

Kita bagaikan anak SD yang baru pulang sekolah. Kita berlarian di pematang sawah buru-buru ingin sampai ke rumah. Kita lekas melepas seragam merah putih dan kaos kaki yang menguning. Kau lalu makan siang dan menonton televisi, aku pergi ke kali dan memancing ikan. Malam ini diam-diam kau berharap esok segera tiba, agar kita mengenakan lagi seragam yang sama. Dan di pematang sawah itu kita akan menertawakan serial kartun di televisi atau belut yang kau tangkap tempo hari.

setelah habis sepiring nasi uduk

Pagi ini di antara piring kosong dan teh manis yang tinggal separuh kita menemukan seorang teman. Padanya kita berbincang. Tentang masa lalu yang suram dan keraguan akan masa depan. Tentang penyesalan dan mimpi yang tertunda. Tak ada yang lebih bersahabat dibanding manusia yang membiarkan kita apa adanya. Tanpa rasa, tanpa rahasia. Darinya kita tak pernah menyimpan apapun. Kita tak perlu menyembunyikan apapun.

untuk Wahib

Kau bilang Tuhan bukan tempat terlarang untuk berpikir. Agama bukan barang tabu untuk dipertanyakan. Lantas jika pada mereka temui kesalahan, apa yang akan kita lakukan? Memakluminya? Dan kita melakukan rutinitas seperti biasa. Ke gereja tiap minggu dan sholat lima waktu. Lalu untuk apa kita berpikir bebas?