Langsung ke konten utama

Postingan

Tentang Kita yang Sedih Pagi Ini

Kita menari di tengah riuh penantian, di antara gempita kesepian dan gemilang penat. Mari rayakan sunyi dan sambut pekat yang baru! Karena jenuh menggantung pada rindu yang hening dan resah yang tanpa kata. Katamu bahagia datang dari belasungkawa dan karangan bunga. Maka esok hari, waktu pagi masih samar, kukirimkan diam yang mencabik: sebagai pelengkap devosimu pada denting gelisah, pada sendu yang menggaduh

Sementara Levinas Sudah Mati

Ada ratusan bayi menderita di Andhra Pradesh. Sementara pengungsi Rohingya mati di perairan Andaman. Tapi di ruang ini tak ada yang berduka. Kau bilang lebih baik menyapa pagi sambil meneguk secangkir teh aroma melati. Tak satupun bisa menyuruh kita menangis katamu. Tidak juga Matius atau Paulus. Sampai akhirnya kita lihat wajah-wajah itu samar dalam jauh.

Pagi

Pagi menyuguhkan keresahan yang baru. Angka yang terus bergerak. Ikhtiar yang tak kunjung terjawab. Tapi burung masih memungut dahan yang jatuh karena angin. Ulat masih mengunyah daun yang basah sisa hujan. Harusnya tak ada yang perlu khawatir. Manusia bisa meramal dan bumi masih konsisten pada porosnya. 

Amba

Disembunyikannya dendam itu pada daun-daun, pada sela bebatuan tempatnya bertapa. Kelak, ia akan datang  sebagai gadis yang terlahir dari darah Drupada dan menjadi Panglima perang Pandawa.Lalu dicarinya lagi dendam yang masih tersembunyi. Ia lekatkan pada busur panah yang menopang badan Bisma. Ia tunggu hingga Panglima perang Kurawa itu memutuskan untuk mati. Ia mau Bisma menghukum dirinya sendiri.