Langsung ke konten utama

Postingan

setelah habis sepiring nasi uduk

Pagi ini di antara piring kosong dan teh manis yang tinggal separuh kita menemukan seorang teman. Padanya kita berbincang. Tentang masa lalu yang suram dan keraguan akan masa depan. Tentang penyesalan dan mimpi yang tertunda. Tak ada yang lebih bersahabat dibanding manusia yang membiarkan kita apa adanya. Tanpa rasa, tanpa rahasia. Darinya kita tak pernah menyimpan apapun. Kita tak perlu menyembunyikan apapun.

untuk Wahib

Kau bilang Tuhan bukan tempat terlarang untuk berpikir. Agama bukan barang tabu untuk dipertanyakan. Lantas jika pada mereka temui kesalahan, apa yang akan kita lakukan? Memakluminya? Dan kita melakukan rutinitas seperti biasa. Ke gereja tiap minggu dan sholat lima waktu. Lalu untuk apa kita berpikir bebas?

Musso

Di minggu siang yang terik, ia bersembunyi di kamar mandi setelah pasukan Kapten Sumadi mengepungnya dan memaksanya untuk menyerah. Jasadnya lalu dibakar dan dipertontonkan di Ponorogo, dua setengah bulan setelah Soekarno menyambutnya dengan peluk dan air mata. Ada yang berbeda dari Musso. Dia tidak memilih untuk menggantung dirinya atau menembakkan peluru ke keningnya. Menurutnya hidup bukanlah kesia-siaan. Dan caranya mati bukan pula sia-sia.

Satu Kilometer dari Kampus

Manusia lahir dengan cita-cita. Apa yang manusia inginkan kemudian diinterpretasikan dalam doa, dalam nama yang diberikan oleh ibu kepada anaknya, Dinamai Mulyanto agar jiwanya mulia, Gunawan agar kelak menjadi manusia berguna atau Krisdayanti agar pintar menyanyi. Kampus ini pun begitu. Pendirinya mempunyai cita-cita yang besar bagi kampus ini. Dinamainya Kampus Kerakyatan, agar kelak kampus ini merakyat. Dulu, di awal pendiriannya, siapapun boleh memanfaatkan kampus ini untuk penghidupannya. Siapapun boleh belajar, akademisi boleh mengajar, penduduk sekitar boleh jadi tukang kebunnya, tukang parkirnya dan beberapa sekedar berjualan di jalan-jalannya. Seperti manusia, kampus ini bermimpi tentang pencapaian-pencapaian. Visi untuk menjadi lebih baik, lalu lebih baik lagi dan ingin jadi yang terbaik dari yang paling baik. Sedang, selalu ada harga yang harus dibayar untuk menjadi lebih baik lagi. Untuk menjadi lebih baik lagi, kampus harus disulap menjadi sebuah kota pendidikan....